BMKG: Gempa M 7,6 di Barat Daya Ternate Dipicu Deformasi Kerak Bumi, Berpotensi Tsunami

Konferensi Pers Update Peringatan Dini Tsunami Dampak Gempabumi M7.6 di Perairan Sulut
Tangkapan layar Konferensi Pers BMKG, Update Peringatan Dini Tsunami Dampak Gempabumi M7.6 di Perairan Sulut. (kanal Youtube Info BMKG)

DENPASAR,MENITINI.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026) pagi, dipicu oleh aktivitas deformasi kerak bumi.

Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal Yotube Info BMKG, menjelaskan bahwa gempa tersebut tergolong gempa dangkal berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa ini merupakan gempa dangkal akibat aktivitas deformasi kerak bumi,” ujarnya.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki karakter pergerakan naik atau thrust fault.

Guncangan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah. Di Kota Ternate, intensitas mencapai V-VI MMI, di mana getaran dirasakan oleh seluruh penduduk, menyebabkan kepanikan hingga warga berlarian ke luar rumah serta kerusakan ringan seperti plester dinding yang runtuh.

BACA JUGA:  Super App Polri Jadi Pusat Layanan Digital, Pelaporan Kini Bisa dari Genggaman

Di wilayah Ibu, getaran tercatat pada intensitas V MMI, sementara di Kota Manado mencapai IV-V MMI. Gempa juga dirasakan di Gorontalo, Bone Bolango, dan Gorontalo Utara dengan intensitas III MMI, serta di Boalemo dan Pohuwato pada skala II-III MMI.

Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, gempa ini berpotensi memicu tsunami dengan status siaga di sejumlah wilayah, antara lain Kota Ternate, Halmahera, Kota Tidore, Kota Bitung, serta sebagian wilayah Minahasa dan Minahasa Selatan.

Sementara itu, status waspada diberlakukan untuk wilayah Kepulauan Sangihe, bagian utara Minahasa Utara, dan sebagian Bolaang Mongondow.

Pemantauan alat ukur pasang surut laut (tide gauge) menunjukkan adanya kenaikan muka air laut di beberapa lokasi. Tsunami terdeteksi di Halmahera Barat setinggi 0,30 meter pada pukul 06.08 WIB, di Bitung 0,20 meter pada pukul 06.15 WIB, dan di Sidangoli 0,35 meter pada pukul 06.16 WIB.

BACA JUGA:  Menaker: RUU PPRT Tekankan Pentingnya Pelindungan Pekerja Rumah Tangga

Selain itu, kenaikan muka air laut juga tercatat di Minahasa Utara setinggi 0,75 meter pada pukul 06.18 WIB, serta di Belang setinggi 0,68 meter pada pukul 06.36 WIB.

BMKG juga mencatat hingga pukul 06.50 WIB telah terjadi 11 kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,5.

Rahmat mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui kanal komunikasi yang telah terverifikasi.

Gempa utama sendiri terjadi pada pukul 05.48.14 WIB. Episenter gempa berada di koordinat 1,25° LU dan 126,27° BT, atau sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 33 kilometer.

Iklan

BERITA TERKINI

ITDC Salurkan Bantuan Tong Sampah di Pura Agung Besakih

ITDC Salurkan Bantuan Tong Sampah di Pura Agung Besakih

DENPASAR,MENITINI.COM – Komitmen terhadap pelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Perusahaan ini menyalurkan

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top