DENPASAR,MENITINI.COM – Broken Beach di Nusa Penida, Bali, akan menjadi lokasi penyelenggaraan final Red Bull Cliff Diving World Series 2026 pada Sabtu (23/5/2026). Ajang olahraga ekstrem untuk pertama kalinya digelar di Indonesia ini akan menampilkan 24 atlet dari 14 negara yang melakukan loncatan dari tebing setinggi 27 meter untuk kategori pria dan 21 meter untuk kategori wanita ke perairan Samudera Hindia.
Penyelenggaraan kompetisi tersebut mendapat dukungan pengamanan dan keselamatan dari TNI Angkatan Laut (AL) melalui pengerahan armada dan personel penyelamat di lokasi kegiatan.
Selain menghadirkan kompetisi kelas dunia, penyelenggara juga mengintegrasikan budaya lokal Bali dalam rangkaian acara. Para atlet diperkenalkan dengan tradisi lokal sejak hari pertama kedatangan mereka di Pulau Dewata.

Untuk menentukan urutan loncatan, para atlet mengikuti permainan tradisional khas perayaan 17 Agustus berupa lomba memasukkan pensil ke dalam botol. Dari permainan tersebut, atlet asal Prancis Gary Hunt dan atlet Belanda Ginni van Katwijk memperoleh giliran pertama untuk melakukan loncatan.
Atlet asal Britania Raya, Aidan Heslop, mengaku antusias dengan penyelenggaraan Red Bull Cliff Diving di Bali. Ia mengatakan sebelumnya pernah berkunjung ke Bali, namun belum sempat merasakan langsung pengalaman cliff diving karena sedang dalam masa pemulihan cedera.
Selain mengikuti permainan tradisional, para atlet juga diajak mengenal kehidupan masyarakat lokal melalui kegiatan merangkai canang sari, membatik, hingga mencicipi jajanan di pasar tradisional.
Nuansa budaya Bali juga akan hadir sepanjang kompetisi di Broken Beach pada 22–23 Mei 2026. Penyelenggara menghadirkan musik rindik, prosesi melukat bersama pemangku setempat sebelum loncatan perdana, serta pertunjukan tari barong yang diiringi baleganjur.
Atlet asal Australia, Xantheia Pennisi, mengatakan pengalaman mencoba permainan tradisional Indonesia menjadi salah satu hal yang menyenangkan selama berada di Bali.
Dalam penyelenggaraannya, Red Bull Cliff Diving turut menggandeng seniman lokal Bali, yakni Ketut Yuliarsa dan Kuncir Sathya Viku. Keduanya terlibat dalam penyusunan konsep visual platform loncat yang mengangkat filosofi “Tri Loka”, yakni harmoni tiga unsur alam semesta: bumi, laut, dan langit.
Ketut Yuliarsa menjelaskan filosofi tersebut terinspirasi dari kisah Bedawang Nala yang melambangkan bumi, Garuda Wisnu sebagai simbol gunung dan langit, serta naga yang merepresentasikan laut. Menurutnya, konsep tersebut selaras dengan karakter olahraga cliff diving yang menghubungkan tebing, udara, dan laut dalam satu atraksi.
Sementara itu, Komandan Pusat Teritorial Angkatan Laut (Danpusteral) Laksamana Pertama TNI Albertus Agung Priyo Suseno mengatakan ajang tersebut mendukung pengembangan sport tourism yang tengah didorong pemerintah.
Ia menyebut TNI AL telah menyiapkan dukungan pengamanan laut, pengawasan area kompetisi, serta koordinasi dengan berbagai instansi terkait demi memastikan kelancaran dan keselamatan selama kegiatan berlangsung.
Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali, A.A. Made Anggia Widana, mengatakan penyelenggaraan Red Bull Cliff Diving di Nusa Penida menjadi bagian dari upaya pengembangan sport tourism berbasis budaya lokal sekaligus mendorong pemerataan destinasi wisata di luar Bali Selatan.
Menurutnya, ajang internasional tersebut diharapkan dapat membuka peluang ekonomi kreatif dan memperluas manfaat pariwisata bagi masyarakat di berbagai wilayah Bali.
Setelah seri pembuka di Bali, Red Bull Cliff Diving World Series 2026 dijadwalkan berlanjut ke Amerika Serikat pada 5–6 Juni, Denmark pada 27 Juni, Bosnia & Herzegovina pada 31 Juli–1 Agustus, Italia pada 25–27 September, dan Oman pada 12–14 November 2026. (M-011)
- Editor: Daton









