Banjir Kian Parah, Anak Muda Indonesia Tolak “Solusi Palsu” Krisis Iklim

Ilustrasi kerusakan akibat banjir
Ilustrasi kerusakan akibat banjir. (pexels)

Pernyataan itu mencerminkan kondisi komunitas paling rentan yang berada di garis depan krisis iklim. Masyarakat adat terus mempertahankan hutan dan keanekaragaman hayati, sementara masyarakat pesisir kehilangan ruang hidup akibat abrasi, banjir rob, dan aktivitas PLTU di sekitar permukiman.

Gerakan Tumbuh dari Akar Rumput

Melihat kenyataan tersebut, solidaritas anak muda tumbuh dari komunitas. Fathan menyebut sejumlah organisasi seperti Asihkan Bumi di Sukabumi, KARBON di Cirebon, LPM Al Fikr di Paiton, hingga Formma di Mentawai sebagai contoh gerakan yang mengakar.

Di Mentawai, Formma menolak izin baru Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) demi menjaga hutan sebagai sumber hidup masyarakat adat. Sementara Asihkan Bumi dan KARBON aktif menolak kebijakan co-firing biomassa, dengan mengolah data menjadi narasi yang mudah dipahami publik.

BACA JUGA:  Hotel di Bali Mulai Transisi Energi Bersih, Tekan Emisi Karbon hingga 146 Ribu Kg per Tahun

Beragam inisiatif itu menunjukkan bahwa gerakan iklim Indonesia tumbuh dari solidaritas komunitas yang saling menopang, bukan dari solusi palsu yang hanya menyamarkan kerusakan.

“Yang utama adalah mengorganisir diri, memperluas dan memperdalam gerakan orang muda. Hanya masyarakat yang terorganisir yang bisa mengalahkan uang yang terorganisir,” tegas Ginanjar.

BACA JUGA:  Bupati Badung Dorong Puteri Indonesia Lingkungan 2026 Perkuat Pelestarian Alam dan Budaya Bali

Banjir yang datang silih berganti, rumah yang tenggelam, dan hutan yang hilang menjadi pengingat bahwa waktu kian menipis. Di tengah krisis yang makin nyata, anak muda Indonesia menyampaikan pesan sederhana namun mendesak: hentikan solusi palsu, dan wariskan bumi yang masih layak dihuni.*

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top