BANGLI,MENITINI.COM – Penglipuran Village Festival (PVF) XIII kembali hadir untuk memeriahkan kalender pariwisata Bali. Festival tahunan yang berlangsung di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, ini akan digelar selama tiga hari, 9–11 Juli 2026, dengan mengangkat tema “Harmoni Bumi Penglipuran, Menuju Pariwisata yang Inklusif, Berkelanjutan, dan Generatif”.
Pembukaan festival dijadwalkan berlangsung pada Kamis (9/7/2026), diawali dengan Peed Aya yang menampilkan parade baleganjur, tari kolosal, serta pawai gebogan sebagai simbol kekayaan budaya Bali.
Kepada media, Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan rangkaian pembukaan akan melibatkan sejumlah desa bebanuan yang memiliki hubungan historis dan spiritual dengan Desa Penglipuran.
“Untuk pembukaan festival kali ini akan diawali dengan Peed Aya yang menampilkan parade baleganjur, tari kolosal, dan pawai gebogan,” ujar Sumiarsa, Rabu (8/7/2026).
Selama tiga hari penyelenggaraan, wisatawan akan disuguhi beragam atraksi budaya, pertunjukan seni, hingga hiburan musik. Pada malam pertama, pengunjung akan dihibur pertunjukan Bondres BBQ yang menghadirkan lawakan khas Bali dengan pesan-pesan edukatif.
Memasuki malam kedua, panggung hiburan akan dimeriahkan penampilan Gek Rai, Bagus Parijata, dan Rey Peni. Sementara malam penutupan pada 11 Juli akan menghadirkan Tri Puspa, XXX Band, serta Kiss Band featuring Yessi sebagai puncak kemeriahan festival.
Tak hanya menyajikan hiburan, PVF 2026 juga mengangkat isu lingkungan melalui sesi diskusi mengenai pengelolaan sampah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya.
“Tujuannya menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa sampah, meskipun terlihat kecil, sangat penting untuk dipilah,” kata Sumiarsa.
Menurutnya, pelaksanaan festival yang bertepatan dengan masa libur sekolah diharapkan menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Untuk menambah daya tarik, panitia juga menyiapkan berbagai permainan berhadiah bagi pengunjung.
Di sisi lain, Penglipuran Village Festival tahun ini semakin memberi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Beragam produk khas Penglipuran akan dipamerkan melalui stan-stan UMKM, sementara wisatawan juga dapat mengikuti lokakarya membuat dan melukis keben berbahan bambu.
Seluruh rangkaian kegiatan dapat diikuti tanpa biaya tambahan. Wisatawan cukup membeli tiket masuk kawasan Desa Wisata Penglipuran untuk menikmati seluruh atraksi dan aktivitas yang tersedia.
Sumiarsa menjelaskan, konsep festival tetap mengedepankan empat pengalaman utama bagi wisatawan, yakni something to see, something to do, something to learn, dan something to buy.
“Kami berharap konsep tersebut sejalan dengan tema festival, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga memperoleh pengalaman budaya, edukasi, dan ekonomi kreatif yang lengkap selama berada di Desa Wisata Penglipuran,” pungkasnya. (M-011)
- Editor: Daton









