Menurutnya, pendekatan tersebut hanya akan bermakna jika dibarengi perubahan kebijakan struktural. Tanpa menghentikan perambahan hutan, perampasan tanah adat, serta pembangunan yang merusak ruang hidup masyarakat, solusi iklim hanya bekerja di permukaan.
“Kalau bicara transisi berkeadilan, langkah pertama adalah menghentikan pembangunan ekstraktif. PLTU baru, smelter dengan PLTU captive, dan perluasan tambang justru membuat kita makin bergantung pada energi fosil. Itu bukan jalan keluar,” tegas Fathan.
Generasi Muda Desak Penurunan Emisi Cepat
Nada serupa disampaikan Ginanjar Ariyasuta (26), Koordinator Climate Rangers Indonesia. Ia menegaskan krisis iklim adalah persoalan antargenerasi, dan generasi muda tidak lagi bisa menerima lambannya aksi pemerintah.
“Kita sedang krisis, dan yang dibutuhkan adalah penurunan emisi secara cepat. Solusi palsu yang tidak menyentuh sumber masalah hanya akan memindahkan beban ke generasi berikutnya,” katanya.
Menurut Ginanjar, solusi berbasis pasar dan teknologi memang terlihat menarik, namun gagal mendorong pengurangan emisi secara signifikan.
“Jangan omon-omon. Generasi kami sudah dirugikan oleh degradasi lingkungan. Kebijakan hari ini menentukan nasib masa depan kami,” ujarnya.









