Banjir Kian Parah, Anak Muda Indonesia Tolak “Solusi Palsu” Krisis Iklim

Ilustrasi kerusakan akibat banjir
Ilustrasi kerusakan akibat banjir. (pexels)

Menurutnya, pendekatan tersebut hanya akan bermakna jika dibarengi perubahan kebijakan struktural. Tanpa menghentikan perambahan hutan, perampasan tanah adat, serta pembangunan yang merusak ruang hidup masyarakat, solusi iklim hanya bekerja di permukaan.

“Kalau bicara transisi berkeadilan, langkah pertama adalah menghentikan pembangunan ekstraktif. PLTU baru, smelter dengan PLTU captive, dan perluasan tambang justru membuat kita makin bergantung pada energi fosil. Itu bukan jalan keluar,” tegas Fathan.

BACA JUGA:  Hari Bumi 2026, ITDC Utilitas Libatkan Pegawai dalam Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan

Generasi Muda Desak Penurunan Emisi Cepat

Nada serupa disampaikan Ginanjar Ariyasuta (26), Koordinator Climate Rangers Indonesia. Ia menegaskan krisis iklim adalah persoalan antargenerasi, dan generasi muda tidak lagi bisa menerima lambannya aksi pemerintah.

“Kita sedang krisis, dan yang dibutuhkan adalah penurunan emisi secara cepat. Solusi palsu yang tidak menyentuh sumber masalah hanya akan memindahkan beban ke generasi berikutnya,” katanya.

Menurut Ginanjar, solusi berbasis pasar dan teknologi memang terlihat menarik, namun gagal mendorong pengurangan emisi secara signifikan.
“Jangan omon-omon. Generasi kami sudah dirugikan oleh degradasi lingkungan. Kebijakan hari ini menentukan nasib masa depan kami,” ujarnya.

Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top