DENPASAR,MENITINI.COM – Pemerintah resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan, Rabu (8/7/2026). Proyek ini menjadi langkah awal implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan sekaligus diharapkan menjadi solusi atas persoalan sampah yang selama ini membebani Bali.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengatakan, pembangunan PSEL di Bali merupakan bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah nasional. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga harus dimulai dari pemilahan dan pengurangan sampah di sumber.
“PSEL yang terdata di kami ke depannya ada sekitar 34 aglomerasi yang mencakup 60 hingga 70 kabupaten/kota di Indonesia. Dengan PSEL ini setidaknya persoalan sampah di wilayah tersebut dapat diselesaikan,” ujar Jumhur.
Ia menjelaskan, masih terdapat sekitar 480 kabupaten/kota dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari yang memerlukan pendekatan berbeda. Untuk daerah tersebut, pemerintah akan terus mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber, penerapan ekonomi sirkular, dan teknologi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.
PSEL Bali dibangun untuk menjawab persoalan sampah di Pulau Dewata, terutama akibat kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung yang telah melebihi batas. Saat ini, timbulan sampah gabungan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung mencapai sekitar 1.600 ton per hari, dengan lebih dari 72 persen masih berakhir di TPA.
Melalui fasilitas ini, pemerintah menargetkan sedikitnya 1.200 ton sampah per hari dapat diolah menjadi energi terbarukan. Sementara sisa sampah akan ditangani melalui penguatan sistem Reduce, Reuse, Recycle (3R) agar pengelolaan sampah menjadi lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Pembangunan proyek strategis nasional tersebut mendapat dukungan dari Danantara Indonesia. Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyebut groundbreaking PSEL Bali menjadi tonggak penting dalam program nasional waste to energy.
“Ini merupakan hari yang sangat bersejarah karena groundbreaking pertama program waste to energy atau PSEL dilakukan di Bali. Sesuai arahan Presiden Prabowo, persoalan sampah harus diselesaikan secepat mungkin,” kata Rosan.
Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, proyek PSEL juga diproyeksikan menghasilkan energi hijau, membuka sekitar 1.200 lapangan kerja hijau (green jobs), menekan emisi karbon, serta mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.
Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster berharap pembangunan fasilitas tersebut berjalan sesuai target sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat.
“Mudah-mudahan kolaborasi yang baik ini berjalan lancar dan proyek bisa selesai tepat waktu, bahkan lebih cepat dari target,” ujar Koster.
KLH/BPLH optimistis keberhasilan pembangunan PSEL Bali akan menjadi model pengelolaan sampah perkotaan modern di Indonesia. Selain mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir, proyek ini juga diharapkan memperkuat ketahanan energi bersih sekaligus mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca secara nasional. (M-011)
- Editor: Daton









