Jakarta Percepat Pembangunan PSEL untuk Atasi Krisis Sampah

penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemprov DKI Jakarta dan Daya Anagata Nusantara pada Senin (4/5/2026).
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemprov DKI Jakarta dan Daya Anagata Nusantara pada Senin (4/5/2026). (Foto: KLH/BPLH)

JAKARTA,MENITINI.COM – Masalah sampah di Jakarta kian mendesak seiring tingginya volume timbulan harian yang mencapai lebih dari 9.000 ton. Kondisi ini membuat beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang semakin berat dan mendekati batas kapasitas.

Selama ini, Bantargebang menjadi tumpuan utama pengelolaan sampah ibu kota. Namun, dengan gunungan sampah yang terus meningkat dan keterbatasan lahan, tekanan terhadap lingkungan di kawasan tersebut semakin nyata.

Selain persoalan kapasitas, pengelolaan sampah di Jakarta juga dinilai belum optimal. Sekitar 87 persen sampah disebut masih belum tertangani secara memadai. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan tidak hanya terletak pada volume, tetapi juga pada sistem pengelolaan yang belum mampu mengimbangi laju produksi sampah.

Jika tidak segera diatasi, kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak serius, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

BACA JUGA:  Bupati Badung Dukung Aksi Kolaborasi Hijau, Lestarikan Mangrove Tahura Ngurah Rai

Sebagai langkah strategis, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Hal ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemprov DKI Jakarta dan Daya Anagata Nusantara pada Senin (4/5/2026).

PSEL diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada metode konvensional, yakni pengangkutan dan penimbunan sampah. Dengan teknologi tersebut, sampah dapat diolah menjadi energi listrik yang bermanfaat.

Selain menjawab keterbatasan lahan, PSEL juga dinilai sebagai langkah transformasi dalam sistem pengelolaan sampah Jakarta. Pendekatan ini memungkinkan pengurangan volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan nilai tambah dari limbah.

Meski demikian, pembangunan PSEL tidak dapat dilakukan secara instan. Proyek ini diperkirakan baru dapat beroperasi dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Selama masa transisi tersebut, Jakarta masih harus menghadapi persoalan sampah yang ada saat ini.

BACA JUGA:  British International Investment Luncurkan Dana Rp22 Triliun, Dorong Transisi Energi Bersih di Asia

Karena itu, peran masyarakat dinilai tetap krusial. Pengelolaan sampah dari sumbernya, seperti rumah tangga, menjadi kunci penting dalam mengurangi beban di hilir.

Langkah sederhana seperti memilah sampah, mengurangi produksi limbah, serta mengelola sampah organik secara mandiri dinilai dapat memberikan dampak signifikan.

Dengan sinergi antara teknologi, kebijakan, dan partisipasi masyarakat, penanganan sampah diharapkan dapat berjalan lebih efektif dari hulu hingga hilir. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top