BANGLI,MENITINI.COM – Tradisi pelepasliaran sapi suci atau wadak di Desa Adat Mengani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli tetap dipertahankan di tengah dinamika pro dan kontra yang berkembang di masyarakat. Untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian adat dan kepentingan warga, tetua adat setempat kini membatasi prosesi pembuatan wadak hanya satu ekor setiap tahun.
Keputusan tersebut diambil setelah muncul berbagai aspirasi dari warga terkait keberadaan sapi suci yang dilepas bebas di area perkebunan masyarakat. Dalam tradisi setempat, sapi yang telah disucikan disebut “Jro Gede” dan tidak boleh diganggu, meskipun kerap memakan tanaman pertanian milik warga.
Jro Bayan Kantun menjelaskan, sebagian masyarakat masih menerima keberadaan wadak sebagai bagian dari warisan leluhur. Namun, ada pula warga yang merasa keberatan karena tanaman produktif mereka sering rusak atau dimakan sapi tersebut.
“Supaya tradisi tetap berjalan dan keluhan masyarakat juga bisa diakomodasi, akhirnya disepakati pembuatan wadak hanya satu ekor setiap tahun,” ujarnya kepada wartawan di sela upacara ngerasakin atau penyucian godel menjadi wadak di Pura Dalem Desa Adat Mengani, Sabtu (16/5).
Prosesi ngerasakin berlangsung khidmat dan diikuti antusias krama adat serta sekaa truna. Seekor anak sapi yang telah dipersiapkan diarak menuju lokasi upacara sebelum akhirnya dilepasliarkan. Berbagai sarana upacara dan sesajen digunakan sebagai simbol perubahan status anak sapi menjadi hewan suci yang wajib dihormati masyarakat.
Wakil Kelian Banjar Adat Mengani, I Wayan Puja, mengatakan masyarakat memiliki kewajiban menjaga keberadaan wadak, termasuk mengikhlaskan jika tanaman pertanian mereka dimakan sapi suci tersebut. Bahkan, warga diimbau tidak mengeluarkan kata-kata kasar saat menghadapi kerusakan kebun akibat ulah wadak.
“Kalau ada yang mengumpat atau berkata tidak baik, dipercaya Jro Gede bisa ngamuk di kebun warga tersebut,” kata pria yang akrab disapa Kelih Nopi itu.
Menurutnya, pembatasan jumlah wadak menjadi satu ekor setiap tahun dianggap sebagai solusi agar tradisi leluhur tetap lestari tanpa terlalu membebani petani dalam mengelola kebunnya.
Tradisi pembuatan wadak sendiri dilaksanakan setiap Tilem Sasih Jiyestha. Kelihan Adat Mengani, I Gede Subrata, menyebut anak sapi yang dijadikan wadak tidak selalu dibeli menggunakan kas adat. Ada kalanya warga menghaturkan godel sebagai bentuk sesangi atau nazar.
“Biasanya ada warga yang menghaturkan pengeleb karena kaulnya terkabul, misalnya anggota keluarga sembuh dari sakit atau persoalan keluarga dapat terselesaikan,” jelasnya. *
- Editor: Daton









