JAKARTA,MENITINI.COM – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus mendorong pemerataan kunjungan wisatawan melalui penguatan promosi kawasan Buleleng–Jembrana–Banyuwangi (3B) yang mencakup Bali Utara, Bali Barat, dan Banyuwangi. Upaya tersebut dilakukan melalui Forum Table Top Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) yang mempertemukan pelaku industri pariwisata dengan agen perjalanan untuk memperluas pasar destinasi alternatif di luar Bali Selatan.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan pengembangan kawasan 3B menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketimpangan distribusi wisatawan yang selama ini masih terkonsentrasi di Bali Selatan.
Menurutnya, promosi kawasan 3B merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku industri pariwisata. Selain memperluas sebaran wisatawan, program ini juga ditujukan untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan serta mendorong peningkatan pengeluaran mereka selama berwisata.
“Program promosi 3B merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, dan seluruh pelaku industri pariwisata di ketiga kabupaten. Tujuannya jelas, yakni memperpanjang lama tinggal wisatawan atau length of stay sekaligus meningkatkan nilai belanja mereka,” ujar Ni Made Ayu.
Ia berharap forum tersebut dapat menghasilkan kerja sama bisnis yang konkret antara pelaku usaha dan penyusun paket wisata, sehingga mampu menghadirkan produk wisata yang menarik menjelang musim libur sekolah pada Juni hingga Juli.
Kegiatan yang berlangsung di Harris Sunset Road, Denpasar, Bali, pada 10 Juni 2026 itu juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kampanye nasional #DiIndonesiaAja. Selain mendorong pemerataan kunjungan, forum tersebut diharapkan mampu memperkuat konektivitas antarwilayah dan membangun ekosistem pariwisata yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
Data Kemenpar menunjukkan Bali masih menjadi destinasi utama wisatawan yang datang ke Indonesia. Selama periode Januari hingga April 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 4,68 juta kunjungan atau meningkat 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pergerakan wisatawan nusantara juga mengalami pertumbuhan. Pada kuartal I hingga II tahun 2026 tercatat sebanyak 417,06 juta perjalanan wisatawan nusantara, naik 1,48 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pertumbuhan tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperluas manfaat ekonomi pariwisata ke berbagai daerah yang memiliki potensi besar, termasuk Bali Utara, Bali Barat, dan Banyuwangi.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, Erwita Dianti, menjelaskan forum table top tersebut menghadirkan 30 pelaku usaha pariwisata terkurasi yang berasal dari sektor akomodasi, jasa pariwisata, hingga desa wisata unggulan.
Beberapa peserta yang terlibat antara lain Plataran Menjangan Resort & Spa, Elevate Bali, Puri Dajuma Beach Eco-Resort & Spa, Umadewi Surf & Retreat, The Lovina, Villa So Long, serta Desa Wisata Les.
Di sisi lain, sebanyak 90 pembeli potensial turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai asosiasi industri pariwisata seperti ASITA, AITTA, ASPPI, ASTINDO, dan INTOA, serta sejumlah perusahaan perjalanan nasional dan internasional.
“Kami secara khusus mengundang para buyers yang memiliki reputasi tinggi, baik dari sisi kualitas layanan maupun tingkat kepercayaan masyarakat, untuk berkolaborasi dengan pelaku usaha pariwisata kawasan 3B. Sinergi ini diharapkan melahirkan produk dan paket wisata yang berkualitas, kompetitif, serta mampu menjawab kebutuhan wisatawan saat ini,” kata Erwita.
Forum BBWI 3B juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendukung target 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2026. Melalui promosi paket wisata alternatif, pemerintah berharap kunjungan wisatawan saat musim liburan dapat lebih tersebar dan tidak hanya terpusat di kawasan Bali Selatan.
Kemenpar memperkirakan kegiatan tersebut berpotensi menghasilkan transaksi senilai Rp3,67 miliar dengan peluang pemesanan paket wisata, produk pariwisata, dan akomodasi mencapai 6.830 wisatawan. Setelah forum berlangsung, para pelaku usaha dijadwalkan melanjutkan komunikasi dengan calon mitra bisnis untuk pembahasan kontrak kerja sama maupun pelaksanaan kunjungan lapangan (site inspection).









