Senin, 15 Juli, 2024

Warga Desa Adat Cemenggoan menabung sampah anorganik. (Foto: Istimewa)

GIANYAR,MENITINI.COM-Berbicara permasalah sampah di Bali, sepertinya tidak ada habisnya. Karena memang selama ada kehidupan manusia, pastilah akan menghasilkan sampah. Namun ternyata ada salah satu desa di Gianyar, yang berhasil mengelola sampahnya, bahkan sudah tidak adalah lagi truk yang keluar masuk desa mengangkut sampah. Atas keberhasilannya dalam mengelola sampah, desa ini mendapatkan rekor MURI.

Jembrana Uji Coba Mesin Pengolah Sampah, Kapasitas 300 Ton Per Hari

Hujan di Musim Kemarau, BMKG: Bukan Anomali Iklim

Katanya Musim Kemarau, Kok Masih Saja Hujan? Ini Penjelasan BMKG

Hidup Bermartabat Masyarakat Adat di Tanah dan Hutan Adatnya

Desa Adat Semenggaon, Gianyar melakukan Pengelolaan Sampah Mandiri Pedesaan. Di desa ini, seluruh warganya memiliki teba (lubang) modern yang difungsikan untuk menaruh sampah. Setidaknya ada 2 lubang dalam teba modern, satu lubang untuk sampah organik dan satu lubang lagi untuk sampah anorganik. Sampah-sampah organik nantinya akan dijadikan pupuk dan sampah anorganik akan ditabung di bank sampah yang setiap bulannya bisa diuangkan.

Desa ini merintis pengelolaan sampah dengan sistem teba modern sejak tahun 2011. Dimana saat itu di wilayah desa tersebut kewalahan mengelola sampah, baik dari got, telajakan dan sawah.

Teba Modern yang digunakan untuk menaruh sampah organik. (Foto: dok. mongabay/Luh De Suriyani)

Lalu pemuka adat desa ini terpanggil untuk melakukan pengelolaan sampah. Yang pertama dilakukan adalah membersihkan sampah plastik di lingkungan desa. Sampah plastik terkumpul, namun mereka tidak tau harus diapakan sampah plastik tersebut. Akhirnya pada tahun 2016 dibuatlah Bank Sampah yang dikelola Badan Pengelola Sampah Desa Adat.

Badan Pengelola Sampah Desa Adat Cemenggoan, Mustiana menjelaskan seluruh rumah tangga diajak mengumpulkan sampah plastik di bank sampah tersebut dan setiap bulannnya bisa diuangkan. Seluruh kepala keluarga (KK) yang berjumlah 354 itu, kata Mustiana memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pengeolaan sampah.

Setelah dengan bank sampah untuk mengatasi sampah angorganik, pengelolaan sampah di desa adat Cemenggoan itu dilanjutkan dengan pembuatan teba modern untuk mengelola sampah organik. Setiap rumah tangga membuat lubang sedalam 3 meter untuk menampung sampah organik, seperti sampah sisa dapur, sampah sisa upacara dan dedaunan.

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Hari Kedua di Provinsi Lampung, Presiden Jokowi Kunjungi Lampung Barat dan Tanggamus

Jembrana Uji Coba Mesin Pengolah Sampah, Kapasitas 300 Ton Per Hari

Jembrana Gencar Promosi Pariwisata Dengan Misi Penjualan Mini

"Program ini baru efektif dilaksanakan seluruh warga dinTahun 2020, dan dampaknya sangat besar, desa kami jadi lebih asri," ungkap Mustiana.

Dengan sistem tersebut Desa Adat Semenggaon tidak lagi berlangganan truk sampah, mengingat sampah sudah terkelola secara mandiri. Hanya sampah residu saja yang dibuang ke TPA Temesi. Atas keberhasilan ini, beberapa desa lain melakukan studi tiru di Desa Cemenggoan. (M-011)

  • Editor: Daton