British International Investment Luncurkan Dana Rp22 Triliun, Dorong Transisi Energi Bersih di Asia

Seorang petani sedang menyebarkan pupuk di sawah.
Ilustrasi: Seorang petani sedang menyebarkan pupuk di sawah. (Foto: Istimewa

JAKARTA,MENITINI.COM – British International Investment (BII) resmi meluncurkan inisiatif pendanaan iklim baru bertajuk British Climate Partners (BCP) senilai £1,1 miliar atau sekitar Rp22 triliun. Program ini ditujukan untuk mempercepat transisi energi bersih di negara-negara berkembang Asia, termasuk Indonesia.

Peluncuran strategi lima tahunan BII ini menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan besar sektor energi di kawasan. Asia saat ini masih menyumbang sekitar tiga perempat permintaan batu bara global, menjadikannya pusat persoalan sekaligus peluang dalam upaya dekarbonisasi dan pencapaian target net zero emissions.

Dalam siaran persnya, Jumat (24/4/2026), BII menyebut kebutuhan investasi untuk transisi energi di Asia sangat besar. Kawasan Asia Tenggara diperkirakan membutuhkan sekitar USD 210 miliar per tahun hingga 2030, sementara India memerlukan sedikitnya USD 160 miliar per tahun untuk beralih dari energi berbasis batu bara ke energi bersih.

Melalui BCP, BII akan memobilisasi modal swasta dalam skala besar dengan skema investasi campuran, seperti platform ekuitas dan pembiayaan mezzanine. Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat pengembangan proyek iklim, mengurangi risiko pada tahap awal, serta menarik minat investor komersial.

BACA JUGA:  DPRD Bangli Dorong Pemerintah Aktif Awasi Pengelolaan Berbasis Sumber

Fokus investasi akan diarahkan ke negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi pesat namun masih bergantung pada energi fosil, seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, serta India.

Menteri Pembangunan Inggris, Jenny Chapman, menegaskan bahwa pendekatan pembangunan kini bergeser dari bantuan hibah menuju kemitraan jangka panjang berbasis investasi.

“Pendekatan baru ini menggabungkan investasi, keahlian, dan reformasi pembiayaan internasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung kebijakan negara mitra,” ujarnya.

Sementara itu, Managing Director dan Head of Asia BII, Srini Nagarajan, menyebut keberhasilan transisi energi di Asia sangat bergantung pada keterlibatan modal swasta.

“British Climate Partners dirancang untuk memanfaatkan pengalaman, modal, dan kemitraan kami guna mengurangi risiko proyek serta menarik investasi jangka panjang pada sektor iklim yang layak secara komersial,” katanya.

Sebagai bagian dari strategi barunya, BII menargetkan minimal 40 persen dari total investasi baru dialokasikan untuk pembiayaan iklim dalam lima tahun ke depan, meningkat dari target sebelumnya sebesar 30 persen.

BACA JUGA:  DLHK Badung Perkuat Penanganan Sampah Liar, Posko Berbasis Banjar Jadi Garda Depan Pengawasan Lingkungan

Selain itu, BII juga tetap berkomitmen mendukung negara berkembang dengan tingkat ekonomi awal (frontier markets), termasuk Nepal. Setidaknya 25 persen investasi baru akan diarahkan ke negara-negara kategori Least Developed Countries (LDC) sesuai definisi PBB.

Tak hanya fokus pada lingkungan, BII juga mendorong investasi berperspektif gender. Sekitar 30 persen dari investasi barunya ditargetkan memenuhi kriteria 2X Challenge, yang bertujuan meningkatkan peran dan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan ekonomi.

Melalui langkah ini, BII berharap dapat mempercepat transformasi sistem energi di Asia menuju sumber yang lebih bersih dan berkelanjutan, sekaligus menjawab tantangan krisis iklim global. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin P. Octavianus

Wamenkes Dorong Percepatan Program Penanggulangan TB

JAKARTA,MENITINI.COM –  Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin P. Octavianus, menegaskan pentingnya percepatan implementasi program penanggulangan Tuberkulosis (TB) melalui langkah yang lebih terukur, kolaboratif, dan

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top