Jurnalis yang Bocorkan Kematian Mahsa Amini Ditangkap

Ilustrasi
Ilustrasi (Foto: (SHUTTERSTOCK/Brian A Jackson)

JAKARTA,MENITINI.COM-Berita kematian Mahsa Amini, seorang gadis berusia 22 tahun yang mengembuskan nafas terakhirnya setelah berada dalam tahanan polisi moral, menjadi pemicu dari maraknya aksi protes dan kerusuhan di berbagai wilayah Iran.

Seorang jurnalis asal Iran, Niloofar Hamedi yang mendedikasikan tulisannya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, ditangkap oleh otoritas setempat karena mendokumentasikan potret orangtua Mahsa Amini yang saling berpelukan di rumah sakit Teheran, tempat putrinya dirawat.

Mengutip Kantor Berita Politik RMOL.ID, aksi Hemedi yang mengunggah foto tersebut di Twitter pada 16 September lalu, dinilai membahayakan stabilitas negara karena membuat warga yang marah jadi semakin emosional. Dikhawatirkan itu akan menjadi pemicu lanjutan dari aksi protes yang telah menewaskan ratusan orang sejauh ini.
Unggahan tersebut menjadi yang terakhir sebelum jurnalis yang bekerja di harian pro-reformasi, Sharq, ditangkap dan akun Twitter-nya ditangguhkan.

BACA JUGA:  Ancaman Iran ke Arab Saudi Membuat Prihatin AS

“Pagi ini, agen intelijen menggerebek rumah klien saya Niloofar Hamedi, menangkapnya, menggeledah rumahnya, dan menyita barang-barangnya,” cuit pengacara Hamedi, Mohammad Ali Kamfirouzi pada 22 September lalu.

Kamfirouzi menyatakan bahwa saat ini, Hamedi belum didakwa dan masih ditahan di sel isolasi di penjara Evin Iran.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) telah meminta pihak berwenang Iran untuk segera dan tanpa syarat membebaskan semua jurnalis yang ditangkap karena liputan mereka tentang kematian serta protes Mahsa Amini.

Menurut CPJ, tak hanya Hamedi, bulan lalu terdapat sekitar 28 wartawan telah ditahan oleh pasukan keamanan Iran.

Hamedi dikenal sebagai jurnalis yang pemberani yang bersemangat dalam mengangkat isu-isu dan hak-hak perempuan.
“Dia selalu melampaui batasnya untuk menjadi suara wanita tak bersuara yang dirampas haknya, baik oleh ayah, suami, atau batasan sosial,” kata salah satu temannya.

BACA JUGA:  Jurnalis Bali Berduka, Wartawan Olahraga, Supriyono Berpulang

Editor Hamedi, Shahrzad Hemmati berharap rekannya dapat kembali ke kantor, meletakkan tasnya di atas meja dan kembali menulis tentang perempuan-perempuan tak dikenal yang menjadi korban stereotip di Iran.

Sumber: RMOL.ID