Pertanian Modern Selamatkan Lahan Petani

Made Sudiana, saat menanam bibit alpukat perdana, bersama petani di Jempana, Desa Plaga, Kecamatan Perang, Badung.
Made Sudiana, saat menanam bibit alpukat perdana, bersama petani di Jempana, Desa Plaga, Kecamatan Perang, Badung. (Foto: M-003)

BADUNG, MENITINI.COM-Upaya dan kerja keras perlu terus dilakukan menyelamatkan lahan pertanian, khususnya di Kabupaten Badung agar tidak habis terjual, akibat kurang perhatian pemerintah terhadap petani.

Apalagi di daerah Badung Selatan yang rata-rata lahan pertaniannya hampir habis dieksploitasi sektor pariwisata, meskipun pemerintah sudah menetapkan RTRW, namun tetap saja banyak yang melanggar demi meraup keuntungan dengan melabrak aturan.

“Kita harus bangun kesadaran para petani, dan jangan sampai petani hanya bisa menanam, namun petani juga harus bisa manajemen. Apa yang perlu ditanam? Bagaimana berproduksi untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi, yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Artinya ada kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan petani juga tidak mengandalkan musim, dimana petani bisa memproduksi sepanjang tahun,” kata I Made Sudiana ditemui saat menanam perdana bibit alpukat bersama para petani di Jempana, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Selasa (28/9/2022).

BACA JUGA:  Musik Outdoor Tutup Pukul 01.00 Wita, Kesepakatan Bersama Sikapi Petisi Polusi Suara di Canggu

Pada kesempatan itu, Made Sudiana juga ikut langsung melakukan proses penanaman perdana 450 batang dari 9 jenis bibit alpukat, yakni Alpukat Hass, Pinkerton, Reed Vietnam, Bokong Ten, Tan Bich, Aligator, Miki, Markus, dan Kendil.

Mantan Wakil Bupati Badung ini mengakui memang bukan dasarnya seorang petani, tetapi dirinya berharap pertanian menjadi  gaya hidup. Maka dari itu, untuk mempertahankan lahan pertanian, pengusaha multi bisnis asal Desa Canggu, Badung, I Made Sudiana mengambil inovasi bisnis pertanian dengan menyumbangkan ide-ide modern, serta manajemen untuk mempengaruhi mindset atau pola pikir para petani.

Salah satu caranya dengan menggandeng petani sebagai partner, agar bisa saling memahami, sehingga para petani bisa lebih maju dan modern yang pasarnya disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari baik dari produk, dan teknologi yang sudah pasti hasilnya mengalami perubahan.

BACA JUGA:  21 Pegawai Kejari Badung Terpapar Covid-19

Dirinya mengakui mengawali upaya ini dengan menata pengelolaan pertanian berbasis pasar, karena bertani sesuai dengan kebutuhan pasar sangat banyak tantangannya. “Orientasi pertanian bukanlah hasil harga ketika panen, tetapi memproduksi produk pertanian yang berkualitas, tentunya dengan target pasar yang strategis dan memiliki daya beli bagus,”ujarnya.  

Apalagi komoditas pertanian di Bali sudah memiliki pasar strategis yaitu hotel dan restaurant, sehingga petani melihat kebutuhan yang diperlukan hotel dan restoran. “Dan peran pemerintah jangan hanya memberi bibit dan pupuk saja, edukasi juga sangat diperlukan oleh petani untuk menghasilkan produksi yang berkualitas. Karena itu, petani harus memiliki manajemen, sehingga petani setiap bulan bisa memenuhi pasar,” tandas bekas anggota DPRD Badung dua periode itu. M-003

BACA JUGA:  Markas Judi Online Digerebek, Bandar Misterius, Keuntungan Rp1,3 Miliar