DENPASAR,MENITINI.COM – Peringatan Hari Dugong Sedunia pada 28 Mei menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan dugong (Dugong dugon) dan ekosistem lamun sebagai habitat utamanya. Mamalia laut yang dikenal sebagai duyung atau sapi laut itu dinilai masih kurang mendapat perhatian dibandingkan satwa laut lainnya seperti paus, penyu, maupun pari manta.
Coral Triangle Center (CTC) menyebut Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian dugong karena merupakan salah satu negara dengan populasi dugong dan padang lamun terbesar di dunia.
Executive Director Coral Triangle Center, Rili Djohani, mengatakan dugong memiliki ketergantungan penuh terhadap ekosistem lamun untuk bertahan hidup. Aktivitas makan dugong juga membantu menjaga kesehatan padang lamun yang berfungsi mendukung perikanan, menyimpan karbon biru, serta memperkuat ketahanan wilayah pesisir.
Namun, keberadaan dugong saat ini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari degradasi habitat, pembangunan pesisir, keterjeratan alat tangkap perikanan, pencemaran laut, hingga menurunnya kualitas padang lamun. Kondisi tersebut diperparah dengan siklus reproduksi dugong yang lambat karena betina umumnya hanya melahirkan satu anak dalam rentang waktu yang panjang.
“Melalui Kalesang Dugong Project di Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Lease, Maluku, kami berupaya mendukung prioritas tersebut dengan memperkuat partisipasi masyarakat serta perlindungan dugong dan habitatnya,” kata Rili dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas masyarakat, CTC menggelar webinar publik bertajuk “Dugong Spotlight: Protecting Lease Islands’ Gentle Giants” yang diikuti lebih dari 50 peserta dari kalangan praktisi konservasi, tenaga pendidik, mahasiswa, organisasi non-pemerintah, hingga masyarakat umum.
Program Kalesang Dugong sendiri berfokus pada pelibatan masyarakat, citizen science, pemantauan habitat, serta peningkatan kesadaran konservasi. Melalui survei dan pendekatan citizen science, masyarakat ikut mengidentifikasi habitat dugong, mendokumentasikan area mencari makan, mencatat 54 kali perjumpaan dugong, serta menemukan delapan spesies lamun.
Salah satu nelayan yang terlibat dalam program tersebut, Vicky Mayauth, mengatakan pemahaman masyarakat mengenai dugong kini mulai meningkat setelah dilakukan berbagai sosialisasi.
“Dahulu banyak masyarakat hanya mengenal dugong sebagai ikan duyung yang dapat dimakan dan belum memahami pentingnya spesies ini bagi ekosistem laut. Kini masyarakat memiliki pemahaman yang jauh lebih baik mengenai dugong dan pentingnya melindungi satwa ini,” ujarnya.
CTC mencatat program tersebut juga berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat sebesar 21 persen terkait dugong dan 18 persen terkait ekosistem lamun. Selain itu, nelayan mulai menyesuaikan praktik penangkapan ikan dengan menghindari area makan dugong.
CTC Maluku Portfolio Manager, Purwanto, mengatakan salah satu capaian penting program ini adalah tumbuhnya rasa kepemilikan masyarakat terhadap upaya perlindungan dugong.
Menurutnya, di Desa Mahu telah diterbitkan Peraturan Negeri Nomor 3 Tahun 2023 tentang Perlindungan Sumber Daya Alam yang mengatur perlindungan dugong dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Untuk mendukung keberlanjutan konservasi, CTC juga meluncurkan program Adopt-A-Dugong. Inisiatif tersebut mengajak masyarakat berpartisipasi secara simbolis dalam perlindungan dugong dan ekosistem lamun di Maluku melalui dukungan terhadap kegiatan edukasi, citizen science, perlindungan habitat, dan aksi konservasi jangka panjang.
Melalui program tersebut, masyarakat dapat mengadopsi dua karakter dugong secara simbolis dan memperoleh sertifikat adopsi, materi edukasi, hingga laporan perkembangan konservasi secara berkala. (M-011)
- Editor: Daton








