DENPASAR,MENITINI.COM – Indonesia sukses menjalani debut sebagai tuan rumah kompetisi loncat tebing akrobatik terbesar di dunia, Red Bull Cliff Diving World Series, yang berlangsung pada 20–23 Mei 2026 di Broken Beach, Nusa Penida, Klungkung, Bali.
Memadukan aksi serta keamanan taraf dunia, alam yang memukau, dan budaya yang mengesankan, berikut 6 fakta menarik dari penyelenggaraan perdana Red Bull Cliff Diving di Indonesia:
1. Keistimewaan Indonesia Dibanding Negara Lain
Indonesia dipilih sebagai pembuka musim ke-17 Red Bull Cliff Diving World Series. Dari enam negara yang terpilih sebagai tuan rumah baru tahun ini, Indonesia dan Oman dinilai memiliki kekayaan bentang alam yang memenuhi kriteria untuk lokasi kompetisi dunia ini.
Hal ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu perhentian istimewa Red Bull Cliff Diving World Series yang telah berkeliling ke lebih dari 30 negara di empat benua sejak diluncurkan pada 2009.
“Kami mencari lokasi yang dekat dengan masyarakat dan juga dekat dengan aksinya (cliff diving) dan Bali adalah kombinasi menarik! Lokasinya sangat alami, tetapi pada saat yang bersamaan juga dapat dijangkau oleh banyak orang yang bisa melihat langsung betapa sulit dan menantangnya olahraga ini,” ujar Sports Director Red Bull Cliff Diving, Orlando Duque.
2. Rhiannan Iffland Tegaskan Dominasi, Aidan Heslop Buktikan Ambisi
Rhiannan Iffland, juara bertahan sembilan musim beruntun asal Australia, membuka musim 2026 sebagai juara kategori perempuan di pemberhentian pertama ini dengan mengantongi total poin 345,55 di Bali. Sementara itu, atlet Britania Raya, Aidan Heslop, tampil epik dan meraih poin 419,85 sehingga membawanya meraih trofi “Gates of Heaven” kategori pria.
“Saya pikir, ini soal mendorong batas maksimal sejauh mungkin dan melewatinya. Ini soal melakukan hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dan itu juga alasannya saya sangat senang melakukan ini,” ujar Heslop yang masih memegang rekor loncatan tersulit sepanjang sejarah Red Bull Cliff Diving itu.
3. Comeback Manis Calon Bintang Masa Depan
Heslop terakhir kali tampil pada November 2024 usai meraih gelar juara dunia di Sydney. Bali menjadi comeback manis usai dirinya absen 18 bulan akibat cedera dan operasi punggung,
Di hadapan ombak besar Broken Beach, ia langsung mencuri perhatian dengan nilai 9 dari para juri pada ronde kedua dan mengambil alih puncak klasemen lewat lompatan ketiga dari platform setinggi 27 meter.
Ia kemudian mengunci kemenangan lewat loncatan terakhir dengan tingkat kesulitan 5,9, (4 forward, 4 somersaults, 3½ twist pike) dengan total 141,6 poin, membuatnya menang telak 40 poin dari para pesaing sekaligus menegaskan ambisinya untuk merebut kembali gelar juara dunia yang ia lewatkan musim lalu.
“Saya melakukan loncatan terakhir itu dan merasakan kebahagiaan dan rasa lega dalam waktu yang sama. Saya bahkan sempat menitikkan air mata saat diangkat dari air dengan jet ski, karena momen ini sungguh bermakna bagi saya. Rasa tegang benar-benar menjalari tubuh saya sepanjang pekan, apalagi loncatan terakhir yang tidak mudah itu. Saya betul-betul kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa bahagianya saya,” ujar pria 24 tahun itu.
4. Pengamanan Maritim Tingkat Tinggi oleh TNI AL
Meloncat dari ketinggian 27 meter (pria) dan 21 meter (wanita) langsung ke laut lepas menuntut standar keselamatan ekstrem. Untuk itu, penyelenggara menggandeng TNI Angkatan Laut (AL) untuk mengirim personel rescue diver terlatih guna memastikan keselamatan semua pihak. Komando Pusat Teritorial Angkatan Laut (Pusteral) pun turut mengerahkan sejumlah armada guna memastikan kesiagaan.
“Ada 1 KRI Surabaya, 2 helikopter, dan juga pasukan Kopaska (Komando Pasukan Katak) dan tim penyelam yang melaksanakan pengamanan, termasuk dari Lanal Denpasar Bali ikut terlibat. Apabila terjadi sesuatu, helikopter stand by langsung melakukan evakuasi medis. Namun, alhamdulilah tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” sebut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Dr. Muhammad Ali, usai penyerahan trofi kepada para pemenang.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran TNI AL adalah bukti kesiapan Indonesia menjadi panggung utama untuk sports tourism khususnya wisata maritim, bahkan sebagai arena kompetisi level dunia, bukan hanya rekreasional. “Harapannya, agenda ini bisa membangkitkan sports tourism tanah air dan atlet-atlet Indonesia juga dapat ikut bergabung dalam pelaksanaan olahraga ekstrem seperti ini ke depan,” ujarnya.
5. Wajah Baru Pariwisata Bali: Sport Tourism yang Melibatkan Komunitas Lokal
Tidak hanya itu, berbagai unsur budaya lokal juga diintegrasikan sebagai elemen tak terpisahkan dari kompetisi loncat tebing akrobatik ini, mulai dari undian giliran loncat dengan memasukkan pensil ke botol ala 17-an, upacara matur piuning dengan para atlet sebelum loncatan dilakukan, hingga kemegahan platform loncat “Tri Loka” (simbol Garuda Wisnu, Bedawang Nala, dan Naga) rancangan seniman lokal.
“Sports tourism menjadi salah satu fokus pengembangan pariwisata kami untuk menghadirkan pariwisata yang lebih berkualitas. Kami mengikuti tren wisata dunia dengan sports tourism-nya, tetapi tetap berbasis kearifan lokal budaya Bali,” kata Kepala Bidang Destinasi Pariwisata pada Dinas Pariwisata Provinsi Bali, A.A. Made Anggia Widana, S.St.Par., M.M.
“Konsep ini terus didorong pemerintah untuk menyebarkan daya tarik wisata agar tidak terpusat di Bali Selatan. Keunikan geografis Pulau Bali juga menyimpan potensi sports tourism yang sangat menjanjikan di luar kawasan Bali Selatan yang selama ini lebih dikenal wisatawan. Penyelenggaraan Red Bull Cliff Diving di Nusa Penida menjadi simbol bagaimana Bali terus berkembang dengan menghadirkan atraksi menarik dan pengalaman baru bertaraf internasional,” tambahnya.
6. Eksekusi Nyata Visi Sport Tourism Premium Indonesia
Ajang ini menjadi lompatan penting yang sejalan dengan Nota Kesepahaman Kementerian Pariwisata bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga pada Desember 2025. Kesuksesan menghelat kompetisi ekstrem ini menegaskan pergeseran citra Indonesia, dari sekadar destinasi liburan konvensional menjadi magnet sport tourism premium dunia yang mumpuni.
Dengan lebih dari 3 miliar penonton Red Bull Cliff Diving sepanjang 2025, mayoritas berbasis di Eropa dan Amerika Serikat, pesona Nusa Penida yang berarti “Pulau para Pendeta” sebagai destinasi sport tourism semakin mendunia.
Juara 3 Red Bull Cliff Diving 2023, Xantheia Pennisi, menyampaikan apresiasinya, “Bali adalah lokasi yang betul-betul seperti mimpi. Pulaunya indah, airnya hangat. Beberapa lokasi yang kita tempuh itu airnya dingin, tetapi ini airnya hangat. Aku sangat senang datang ke Bali saat liburan, tapi rasanya lebih spesial ketika datang ke sini untuk berkompetisi.” (M-011)
- Editor: Daton









