JEMBRANA,MENITINI.COM – Bangkai paus sperma betina yang terdampar di pesisir Pantai Anyar Sari, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali, hingga Kamis (7/5/2026) siang belum juga dievakuasi. Proses penanganan mamalia laut berukuran sekitar 17 meter itu masih berlangsung setelah tim melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.
Sebelumnya, bangkai paus raksasa tersebut ditemukan terdampar pada Selasa (5/5/2026) sore. Hingga Rabu (6/5/2026) malam sekitar pukul 18.00 Wita, proses nekropsi dan persiapan evakuasi belum rampung. Kondisi cuaca berupa hujan deras serta pasang surut air laut menjadi kendala bagi petugas di lapangan.
Nekropsi dilakukan oleh tim dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI). Pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap penyebab kematian paus sperma tersebut. Saat proses pemeriksaan berlangsung, petugas juga menemukan adanya dugaan upaya pengambilan gigi paus oleh orang tak dikenal.
Pantauan di lokasi menunjukkan warga memadati area pantai untuk melihat proses penanganan bangkai paus. Petugas keamanan telah memasang garis pembatas dan terpal penutup, serta mengimbau masyarakat agar tidak mendekati area nekropsi.
Relawan JSI, drh. Abdullatif Muhammad menjelaskan, proses nekropsi membutuhkan waktu cukup lama karena dipengaruhi kondisi laut. Dari hasil pemeriksaan awal, terdapat beberapa kemungkinan penyebab kematian paus tersebut.
Menurutnya, paus sebagai mamalia laut sangat bergantung pada daya apung air untuk menopang organ tubuhnya. Ketika terdampar di daratan, hewan tersebut bisa mengalami crush syndrome, yakni kondisi ketika organ dalam tertarik gravitasi akibat hilangnya daya apung air laut.
“Untuk memastikan penyebab kematian, kami mengambil lebih dari 20 sampel mulai dari organ dalam hingga kulit untuk diuji di laboratorium, termasuk pemeriksaan DNA,” ujarnya.
Kasat Polairud Polres Jembrana AKP I Putu Suparta mengatakan pihak kepolisian terus melakukan pengamanan di lokasi. Personel disiagakan guna mencegah adanya pencurian daging maupun bagian tubuh paus lainnya.
“Kami berjaga hingga malam untuk memastikan bangkai paus tetap aman selama proses penanganan berlangsung,” katanya.
Sementara itu, rencana awal penguburan bangkai paus kini berubah setelah muncul arahan dari Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik (KSG) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bangkai paus tersebut rencananya akan dimanfaatkan oleh Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) untuk kepentingan edukasi.
Petugas Balai Pengelolaan Kelautan Denpasar, Airlangga, mengatakan pihaknya telah menerima informasi terkait rencana pemanfaatan tulang paus tersebut. Namun hingga kini belum ada keputusan final apakah bangkai paus akan langsung dikubur atau dilakukan pemisahan antara tulang dan daging terlebih dahulu.
“Tulang paus direncanakan dimanfaatkan untuk edukasi, sehingga masih menunggu keputusan teknis penanganannya,” ujarnya. (M-011)
- Editor: Daton








