Kasus Katarak Masih Tinggi, Pemerintah Perkuat Skrining Nasional

Bakti sosial operasi katarak bersama Noor Dubai Foundation di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Jumat (24/4)
Bakti sosial operasi katarak bersama Noor Dubai Foundation di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Jumat (24/4). (Foto: Kemenkes)

JAKARTA, MENITINI.COM – Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar di sektor kesehatan mata, menyusul tingginya angka kebutaan akibat katarak yang mencapai sekitar 600 hingga 650 ribu kasus sepanjang 2025. Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu produktivitas nasional, terutama pada kelompok usia lanjut.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan, katarak tidak hanya berdampak pada penurunan kualitas penglihatan, tetapi juga mengurangi peran sosial penderitanya.

“Jika katarak tidak ditangani, yang hilang bukan hanya penglihatan, melainkan juga peran sosial dan produktivitas mereka,” ujarnya saat membuka kegiatan bakti sosial operasi katarak bersama Noor Dubai Foundation di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Jumat (24/4).

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan katarak menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk usia di atas 50 tahun dengan persentase mencapai 81,2 persen. Sementara itu, hasil skrining program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 mencatat, dari 23,35 juta orang yang diperiksa, sebanyak 2,95 juta mengalami gangguan penglihatan.

Dante menjelaskan, penderita katarak dapat kehilangan hingga 80 persen akses informasi yang diterima melalui indra penglihatan. Kondisi ini membuat kualitas hidup menurun secara signifikan.

BACA JUGA:  Kemenkes Gandeng Noor Dubai, 500 Warga Dapat Operasi Katarak Gratis

Untuk menekan angka kebutaan, pemerintah menyiapkan dua langkah strategis, yakni mengintegrasikan skrining mata dalam program CKG 2026 serta memastikan layanan operasi katarak sepenuhnya dijamin melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Selain itu, pemerintah juga menggandeng PERDAMI dan Noor Dubai Foundation untuk memberikan layanan operasi katarak gratis bagi 500 pasien pada periode Januari hingga Mei 2026. Program ini menyasar wilayah Kalimantan Tengah sebanyak 200 pasien, Nusa Tenggara Barat 150 pasien, dan Nusa Tenggara Timur 150 pasien.

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia dan ASEAN, Abdulla Salem Obaid AlDhaheri, menyatakan kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam hubungan bilateral kedua negara.

“Layanan kesehatan adalah fondasi bagi martabat manusia dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi peran dokter spesialis mata Indonesia yang terlibat dalam program tersebut. Menurutnya, kolaborasi internasional yang memperkuat kapasitas tenaga medis nasional merupakan model kemitraan yang efektif.

BACA JUGA:  Tiap 1 Menit Dua Orang Terinfeksi TB, dan Setiap 4 Menit Satu Orang Meninggal

Sementara itu, Bupati Kapuas Muhamad Wiyanto menyambut baik program ini, mengingat biaya operasi katarak secara mandiri dapat mencapai Rp10 juta per mata.

“Tahun lalu peserta sekitar 150 orang, tahun ini meningkat menjadi 200 pasien. Peningkatan ini menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat sekaligus kepercayaan terhadap program ini,” ungkapnya.

Dalam Peta Jalan Kesehatan Penglihatan 2025–2030, pemerintah menargetkan sedikitnya 60 persen penderita katarak dapat memperoleh tindakan operasi dengan hasil penglihatan optimal. Pada 2025, kapasitas operasi nasional tercatat mencapai 634.642 tindakan atau sekitar 92 persen dari target yang ditetapkan. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top