Wamenkes: Pemanfaatan AI di Bidang Kesehatan tak Bisa Sembarangan

Pembukaan Konferensi Nasional tentang ekosistem kecerdasan buatan kesehatan di Jakarta, Senin (8/6).
Pembukaan Konferensi Nasional tentang ekosistem kecerdasan buatan kesehatan di Jakarta, Senin (8/6). (Foto: Kemenkes)

JAKARTA,MENITINI.COM – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sektor kesehatan tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan nyawa pasien.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono saat membuka Konferensi Nasional tentang ekosistem kecerdasan buatan kesehatan di Jakarta, Senin (8/6).

“Ketika sebuah program komputer merekomendasikan diagnosis kepada seorang dokter, siapa yang bertanggung jawab jika rekomendasinya salah? Pertanyaan inilah yang membawa kita semua ke ruangan ini hari ini,” kata Dante.

Menurutnya, penerapan AI di bidang kesehatan bukan hanya soal kecanggihan teknologi, melainkan menyangkut langsung kehidupan manusia. Karena itu, penggunaan teknologi tersebut harus disertai tata kelola yang kuat, regulasi yang adaptif, serta komitmen etika yang tidak dapat ditawar.

Dante mengakui AI membuka peluang besar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, mulai dari deteksi dini penyakit, percepatan diagnosis, hingga pengolahan data kesehatan dalam jumlah besar. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga memiliki risiko, seperti potensi bias hasil, kesalahan diagnosis, hingga ancaman keamanan data pasien.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI di sektor kesehatan saat ini sudah berjalan di lapangan, bukan lagi sekadar wacana.

Sejak 2023, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah memanfaatkan AI untuk deteksi Tuberkulosis (TB) menggunakan rontgen portabel berbasis AI. Hingga 2025, sekitar 200 ribu warga telah menjalani pemeriksaan dengan teknologi tersebut.

BACA JUGA:  Kemenkes Percepat Deteksi Dini Kanker, Puskesmas Dilengkapi X-Ray Digital dan USG Berbasis AI

Selain itu, sejumlah uji coba menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Pada deteksi kanker paru bersama Harrison.ai, tingkat akurasi AI mencapai 90 persen, lebih tinggi dibanding pembacaan radiologi manual yang berada di angka 83 persen.

Sementara itu, pada deteksi stroke melalui CT scan otak bersama RSUP Dr. M. Djamil dan RS Pusat Otak Nasional, AI mencatat tingkat ketepatan hingga 98 persen dalam mengidentifikasi pasien yang benar-benar sehat, dibandingkan 74 persen pada pembacaan manual.

Pada skrining TB massal bersama Qure.ai, dari 38 ribu pemeriksaan, AI berhasil menemukan 4 ribu kasus dugaan TB serta 12 ribu kelainan paru lainnya.

“Data ini membuktikan satu hal: AI tidak hanya mendeteksi satu penyakit, tetapi membuka peluang yang lebih besar untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pasien,” ujar Dante.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan tata kelola agar risiko dapat ditekan semaksimal mungkin.

“Inovasi tanpa tata kelola adalah risiko. Dan tata kelola tanpa inovasi adalah stagnasi,” tegasnya.

Dante berharap konferensi tersebut menghasilkan rekomendasi konkret, mulai dari pengaturan alat kesehatan berbasis AI, tata kelola data, mekanisme persetujuan pasien sebelum data digunakan, hingga penguatan peran Komite Etik Penelitian Kesehatan dalam evaluasi riset berbasis AI.

BACA JUGA:  Obesitas Jadi Pintu Masuk Diabetes, Wamenkes Minta Masyarakat Ubah Cara Pandang

Konferensi Nasional bertajuk “Menuju Masa Depan Ekosistem Kecerdasan Buatan Kesehatan yang Aman, Adil, dan Bertanggung Jawab” itu juga dirangkaikan dengan lokakarya terkait penerapan panduan etika, persetujuan pasien, dan tata kelola data dalam AI kesehatan. Kegiatan berlangsung di Ruang Leimena, Gedung Adhyatma, Jakarta Selatan.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, menilai bahwa dunia saat ini telah memasuki era yang sangat dipengaruhi AI. Teknologi tersebut mengubah cara hidup, bekerja, hingga pengambilan keputusan, termasuk dalam layanan kesehatan.

Menurutnya, AI telah memberikan manfaat nyata, mulai dari membantu diagnosis penyakit, pengembangan terapi yang lebih personal, hingga pemanfaatan robot di bidang kesehatan.

Namun, ia menegaskan bahwa manfaat tersebut harus diimbangi dengan perlindungan serius terhadap keamanan data masyarakat.

“Penelitian ke depan harus didahului oleh suatu wadah yang mengawasi. Karena itu, Kementerian Kesehatan membentuk SATUSEHAT dan SATUSEHAT AI untuk menjaga agar data masyarakat Indonesia tidak disalahgunakan atau dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Azhar. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

Nelayan Klungkung Terima Bantuan Freezer

KLUNGKUNG,MENITINI.COM – Nelayan di Kabupaten Klungkung kini memiliki solusi untuk menjaga kualitas hasil tangkapan ketika belum seluruhnya terserap pasar. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Penguatan Daya

Spanyol Juara Piala Dunia 2026

DENPASAR, Timnas Spanyol resmi dinobatkan sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada partai final yang berlangsung dramatis di Stadion

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, meninjau SMA Negeri 1 Gresik guna mendorong pembentukan generasi muda peduli kelestarian bumi sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

SMAN 1 Gresik Jadi Percontohan Sekolah Peduli Lingkungan

GRESIK,MENITINI.COM – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat mendorong perluasan Program Adiwiyata sebagai upaya membentuk generasi muda yang peduli lingkungan

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top