DPR Tegaskan Aturan Tarif UU Cipta Kerja Lindungi Pengguna Telekomunikasi, Tak Atur Penghapusan Kuota Internet

Anggota Komisi III DPR RI I Wayan Sudirta saat mengikuti RDP Komisi III DPR RI bersama Sekretaris Jenderal MPR RI dan DPD RI.
Anggota Komisi III DPR RI I Wayan Sudirta saat mengikuti RDP Komisi III DPR RI bersama Sekretaris Jenderal MPR RI dan DPD RI. (Foto: Parlementaria/Foto: Jaka/nr)

JAKARTA,MENITINI.COM – Anggota Komisi III DPR RI, I Wayan Sudirta, menegaskan bahwa pengaturan tarif dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang tetap berpijak pada prinsip perlindungan pengguna layanan telekomunikasi.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang pengujian materiil yang digelar secara daring dari Ruang Rapat Puspanlak, Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Sidang itu membahas Perkara Nomor 273/PUU-XXIII/2025 dan 33/PUU-XXIV/2026 yang menguji ketentuan Pasal 71 angka 2 UU Cipta Kerja, khususnya perubahan terhadap Pasal 28 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

Dalam keterangannya, Wayan menjelaskan bahwa sejak awal pembentukan UU Telekomunikasi, pengaturan tarif telah dirancang sebagai instrumen untuk menjaga keseimbangan antara mekanisme pasar dan fungsi pengendalian negara. Negara, kata dia, tidak menetapkan tarif secara langsung, melainkan menentukan formula atau parameter normatif yang wajib dipatuhi oleh penyelenggara jasa dan jaringan telekomunikasi.

BACA JUGA:  Jamdatun Dorong Perubahan Paradigma Perlindungan Aset Negara dalam Kontrak Internasional

Menurutnya, perubahan melalui UU Cipta Kerja yang memberi kewenangan kepada pemerintah untuk menetapkan tarif batas atas dan/atau tarif batas bawah justru memperkuat peran negara dalam menjaga stabilitas industri. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk mencegah perang tarif yang berisiko menurunkan kualitas layanan, menghambat investasi, serta merugikan konsumen.

BACA JUGA:  Kejati Sumsel Geledah Dua Lokasi Terkait Dugaan Korupsi Pelayaran Sungai Lalan

DPR RI juga menanggapi dalil pemohon yang mengaitkan Pasal 28 dengan praktik penghapusan atau penghangusan kuota internet. Wayan menegaskan bahwa norma tersebut hanya mengatur mekanisme dan formula penetapan tarif, bukan aspek teknis layanan seperti pengelolaan masa berlaku kuota.

Iklan

BERITA TERKINI

Menteri LH/BPLH Hanif Faisol Nurofiq, Gubernur Bali Wayan Koster, Wali Kota Denpasar I.G.N. Jaya Negara, dan jajaran pemerintah daerah berdiskusi saat meninjau operasional pengolahan sampah di TPS Tahura, Denpasar, Bali, Kamis (5/3/2026).

PSEL Membutuhkan Sampah yang Sudah Terpilah

DENPASAR,MENITINI.COM – Teknologi Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) membutuhkan pasokan sampah yang sudah terpilah. Tanpa pemilahan, efektivitas pengolahan sampah menjadi energi listrik akan sangat terbatas.

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top