SIGI,MENITINI.COM – Wisata di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kini menawarkan pengalaman yang berbeda. Tidak sekadar menikmati keindahan alam, wisatawan diajak menyelami hubungan erat antara hutan, budaya, dan kehidupan masyarakat melalui Batik Valiri, sebuah usaha batik lokal yang berkembang di Desa Beka, Kecamatan Marawola.
Mengusung konsep ekowisata berbasis pengalaman, Batik Valiri mengajak pengunjung menjelajahi Hutan Ranjuri, mengenal tanaman penghasil pewarna alami, mempelajari filosofi budaya Kaili, hingga mencoba langsung proses membatik. Perjalanan tersebut menjadi sarana edukasi untuk memahami bagaimana masyarakat adat menjaga alam sekaligus mengembangkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Pendiri Batik Valiri, Afrianto atau Anto, mengatakan ide tersebut berangkat dari keinginannya mengangkat kekayaan alam, budaya, dan sejarah Sigi ke dalam karya batik yang memiliki identitas khas daerah.
“Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari Hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat, termasuk pewarna alami yang bisa dikembangkan dari tanaman di dalam hutan purba tersebut,” ujar Anto.
Hutan Ranjuri yang memiliki luas sekitar 9 hektare menjadi bagian penting dalam pengembangan Batik Valiri. Hutan yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat Desa Beka itu tidak hanya berfungsi sebagai penyangga ekologis yang melindungi wilayah dari banjir dan kekeringan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi motif dan bahan pewarna alami.
Nama Valiri sendiri berasal dari bahasa Kaili yang berarti “jadi di sini”, merujuk pada kawasan sekitar Hutan Ranjuri yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus pusat pelestarian nilai budaya dan pengetahuan lokal.
Keunikan Batik Valiri terlihat dari motif-motif yang diangkat. Selain motif taiganja yang melambangkan kesuburan, cinta, dan ketulusan hati dalam budaya Kaili, terdapat pula motif Pohon Rau, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga jejak megalitik yang tersebar di wilayah Sigi.

Motif-motif tersebut tidak hanya menjadi elemen estetika, tetapi juga sarana memperkenalkan sejarah, budaya, dan kekayaan hayati daerah kepada wisatawan.
Dari sisi produksi, Batik Valiri memanfaatkan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan di sekitar Hutan Ranjuri. Daun rau menghasilkan warna krem, daun mangga menciptakan nuansa kuning kehijauan, sementara daun jati dan ketapang menghasilkan warna cokelat kemerahan hingga hitam.
Menurut Anto, proses pewarnaan alami membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pewarna sintetis. Mulai dari perebusan bahan selama beberapa jam hingga pencelupan berulang kali agar warna dapat terserap sempurna ke dalam kain.
“Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Itu yang membuat nilainya berbeda,” katanya.
Pemanfaatan bahan baku juga dilakukan dengan prinsip konservasi. Masyarakat adat hanya memanfaatkan daun yang telah gugur tanpa menebang pohon. Pengelolaan Hutan Ranjuri dilakukan melalui mekanisme adat, sehingga kelestarian kawasan tetap terjaga sebagai sumber kehidupan masyarakat.
Saat ini, konsep wisata Batik Valiri terus dikembangkan sebagai paket ekowisata yang menggabungkan wisata alam, budaya, dan ekonomi kreatif. Pengunjung dapat berjalan menyusuri kawasan hutan, mengenal berbagai tanaman pewarna alami, memahami filosofi motif batik khas Kaili, hingga mengikuti lokakarya membatik.
Pengembangan tersebut turut diperkuat melalui program inkubasi Gampiri Interaksi yang membantu peningkatan kapasitas usaha, tata kelola produksi, akses pasar, serta transisi penggunaan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan.
Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning, mengatakan pihaknya mendorong penguatan aspek lingkungan dalam pengembangan Batik Valiri agar usaha tersebut dapat tumbuh sejalan dengan upaya pelestarian alam.

“Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem,” ujarnya.
Selain pelatihan pewarna alami, berbagai program konservasi juga dilakukan melalui penanaman kembali pohon mangga, ketapang, dan jati di kawasan Hutan Ranjuri, termasuk program adopsi pohon yang melibatkan masyarakat.
Kini Batik Valiri mulai dikenal hingga mancanegara. Produk batik khas Sigi tersebut kerap menjadi suvenir resmi dalam berbagai kunjungan dan telah menarik perhatian tamu dari sejumlah negara seperti Brasil, Amerika Serikat, dan Jepang yang datang untuk belajar sekaligus berbelanja langsung.
Kehadiran Batik Valiri menjadi contoh bagaimana ekowisata dapat mendorong pelestarian lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat. Melalui perpaduan antara hutan, budaya, dan kreativitas lokal, Sigi menawarkan pengalaman wisata yang tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga pemahaman tentang pentingnya menjaga alam dan warisan budaya secara berkelanjutan. (M-011)
- Editor: Daton









