LONDON,MENITINI.COM – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam menekan emisi gas rumah kaca melalui penguatan pengelolaan sampah, khususnya pengurangan sampah makanan (food waste). Komitmen tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, saat menghadiri High-Level Super Pollutant Reception di Istana St James’s, London, Inggris, 25 Juni 2026.
Forum yang menjadi bagian dari London Climate Action Week (LCAW) 2026 itu turut dihadiri Raja Charles III, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres, serta sejumlah pemimpin dunia. Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah global dalam mengurangi super polutan, terutama gas metana yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.
Menteri Jumhur mengatakan Indonesia tidak hanya berfokus pada transisi energi dalam upaya pengendalian perubahan iklim, tetapi juga memperkuat pengelolaan limbah yang menjadi salah satu sumber emisi metana.
“Kehadiran kita di forum ini menegaskan komitmen Indonesia bahwa kita tidak hanya berfokus pada transisi energi, tetapi juga pada aksi nyata di sektor pengelolaan limbah. Gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah, terutama sisa makanan, adalah ancaman yang harus kita tangani bersama,” ujarnya.
Menurut Jumhur, sebagian besar emisi metana dari sektor limbah berasal dari pembusukan sampah organik, khususnya sisa makanan yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Karena itu, pengurangan sampah makanan dinilai menjadi salah satu langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dari tingkat rumah tangga, antara lain dengan mengurangi makanan yang terbuang, memilah sampah organik, serta mengolah limbah organik agar tidak seluruhnya berakhir di TPA.
“Mengurangi food waste bukan hanya soal lingkungan. Ini juga berkaitan dengan ketahanan pangan, efisiensi penggunaan sumber daya, dan perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Pemerintah Indonesia sendiri telah memasukkan pengurangan emisi metana dari sektor limbah ke dalam kebijakan nasional penanganan perubahan iklim. Berbagai langkah yang ditempuh antara lain mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, meningkatkan pengolahan sampah organik, serta menghentikan praktik pembuangan sampah terbuka atau open dumping.
Program tersebut juga menjadi bagian dari target penurunan emisi gas rumah kaca yang dijalankan bersama pemerintah daerah melalui Subnational NDC Roadmap.
Dalam kesempatan yang sama, Raja Charles III mengunjungi instalasi Methane Takeaway yang diprakarsai The Waste and Resources Action Programme (WRAP). Instalasi tersebut menampilkan berbagai solusi pengurangan limbah makanan yang dinilai mampu menjadi cara cepat dan hemat biaya untuk menekan emisi metana.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan kepada seluruh negara untuk mempercepat pengurangan limbah makanan, menghentikan praktik open dumping, serta meningkatkan pengelolaan gas metana di tempat pemrosesan akhir sampah.
Keikutsertaan Indonesia dalam London Climate Action Week 2026 dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama internasional dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus mendorong kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan. (M-011)
- Editor: Daton









