Obesitas Jadi Pintu Masuk Diabetes, Wamenkes Minta Masyarakat Ubah Cara Pandang

Ilustrasi Obesitas
Ilustrasi Obesitas. (Foto: Net)

JAKARTA,MENITINI.COM – Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengingatkan masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap obesitas. Menurutnya, obesitas bukan lagi sekadar persoalan penampilan, melainkan penyakit kronis yang berpotensi memicu berbagai komplikasi serius, terutama diabetes melitus tipe 2.

Pernyataan tersebut disampaikan Dante saat peluncuran inovasi medis terbaru di Jakarta, Sabtu (4/7/2026). Ia menyebut obesitas secara konsisten masuk dalam lima besar masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis.

“Berbicara tentang obesitas berarti berbicara tentang perubahan metabolisme tubuh. Dengan mengendalikan dan menurunkan angka obesitas, kita secara langsung dapat mencegah komplikasi lanjutan, seperti menurunkan angka kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung,” ujar Dante.

Dante menjelaskan, hasil studi genetik di Indonesia menunjukkan hampir seluruh masyarakat memiliki bakat atau gen diabetes. Namun, aktif atau tidaknya gen tersebut sangat dipengaruhi oleh pola hidup sehari-hari.

Ia mengungkapkan bahwa faktor keturunan juga berperan besar dalam meningkatkan risiko diabetes. Jika hanya salah satu orang tua mengidap diabetes, risiko anak terkena penyakit tersebut masih berada di bawah 10 persen. Namun, apabila kedua orang tua menyandang diabetes, risiko anak meningkat menjadi 20 hingga 30 persen dan dapat muncul pada usia yang lebih muda.

BACA JUGA:  Mengelola Empty Nest Syndrome, Orang Tua Perlu Siapkan Kesehatan Mental hingga Finansial

Tingginya ancaman diabetes juga terlihat dari hasil survei kesehatan di Jakarta. Prevalensi diabetes tercatat mencapai 12,8 persen atau sekitar satu dari delapan penduduk. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 3 persen yang telah terdiagnosis, sementara 9,8 persen lainnya baru mengetahui dirinya mengidap diabetes saat mengikuti survei kesehatan karena sebelumnya tidak merasakan gejala.

Menurut Dante, menjaga berat badan ideal melalui pengaturan pola makan dan olahraga memang menjadi langkah utama. Namun, upaya tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Data klinis menunjukkan tingkat keberhasilan diet mandiri dalam jangka panjang hanya sekitar 5 persen.

Di sisi lain, operasi bariatrik yang selama ini menjadi salah satu pilihan terapi masih terkendala biaya yang tinggi dan hanya dapat dilakukan pada kondisi medis tertentu.

“Di antara diet mandiri dan operasi bariatrik terdapat celah yang perlu diisi. Di sinilah pentingnya kehadiran inovasi obat-obatan medis terbaru untuk menjembatani kebutuhan tersebut,” kata Dante yang juga menjabat Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI).

Sementara itu, spesialis endokrinologi dari Persatuan Endokrinologi Indonesia, Em Yunir, menyebut prevalensi diabetes di Indonesia saat ini berkisar antara 11,5 hingga 11,7 persen.

Menurutnya, diabetes merupakan penyakit yang kerap disertai berbagai komorbid, seperti dislipidemia dan hipertensi. Kondisi tersebut dapat memicu kerusakan organ vital, termasuk gagal ginjal, sehingga penanganannya harus dilakukan secara komprehensif.

BACA JUGA:  Indonesia Luncurkan Komisi Lancet Pertama, Susun Arah Sistem Kesehatan Menuju 2045

Ia menjelaskan bahwa inovasi terapi terbaru seperti tirzepatide diharapkan dapat membantu pengendalian diabetes dan obesitas secara lebih efektif. Obat tersebut bekerja dengan meniru dua hormon alami tubuh yang berperan dalam mengatur rasa lapar sehingga pasien merasa kenyang lebih cepat dan lebih lama.

“Cukup dengan satu jenis pengobatan, berbagai masalah dapat ikut terkendali. Tidak hanya menurunkan kadar gula darah dengan sangat baik, tetapi juga menurunkan tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, hingga membantu menurunkan berat badan secara signifikan,” jelas Em Yunir.

Meski perkembangan teknologi dan inovasi medis terus berlangsung, para ahli menegaskan bahwa perubahan gaya hidup sehat tetap menjadi fondasi utama dalam pencegahan dan pengendalian obesitas maupun diabetes. Pola makan seimbang dan olahraga teratur dinilai tetap menjadi langkah paling efektif untuk menjaga kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top