TABANAN,MENITINI.COM – Junior Chamber International (JCI) Bali menggelar kunjungan perusahaan dan business matching yang dikemas dalam seminar bertajuk From Wellbeing to Green Economy di ruang pertemuan Graha Kanuruhan RSU Bhakti Rahayu Tabanan.
Kegiatan yang dipandu oleh Putu Karina Awasti Sri Radherani ini menghadirkan Direktur RSU Bhakti Rahayu, dr. Ni Nyoman Sri Rahayu Wulandari, M.Biomed, Sp.B, serta Direktur Utama Bhakti Rahayu Group, Putu Ivan Yunatana sebagai pembicara. Seminar tersebut diikuti 12 perwakilan perusahaan anggota JCI Bali dan turut dihadiri Komisaris PT Bhakti Rahayu Group, Nyoman Suwitri dan Wakil Direktur Utama, dr. Maria Wahyu Daruki, Mars.
Dalam pemaparannya, dr. Sri Rahayu Wulandari yang akrab disapa Dokter Ayu ini menjelaskan pentingnya membangun program well-being atau kesejahteraan individu, baik di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari. Menurutnya, well-being merupakan kondisi ketika seseorang merasa bahagia, puas, memiliki tingkat stres rendah, serta kualitas hidup yang baik.
Kondisi tersebut, jelasnya, ditandai dengan kemampuan individu memahami dan menerima emosi yang dirasakan. Sebaliknya, well-being yang buruk dapat berdampak pada menurunnya kesehatan fisik, terganggunya hubungan sosial, hingga kesulitan berkonsentrasi.
“Kondisi wellbeing yang buruk dapat menyebabkan hubungan sosial terganggu, kesulitan berkonsentrasi, serta kesulitan untuk merasakan kebahagiaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dokter Ayu menjelaskan, untuk mencapai kesejahteraan tersebut, sejumlah aspek wellness yang perlu diperhatikan, seperti spiritualitas, kedekatan dengan alam, rekreasi, relaksasi, nutrisi, olahraga, hubungan sosial, hingga giving back atau memberi kontribusi kepada sesama.
Selain itu, peran pemimpin dalam perusahaan juga dinilai penting dalam mendukung well-being karyawan. Hal ini dapat dilakukan melalui desain kerja yang cerdas, program nutrisi dan gaya hidup sehat, kegiatan sosial dan spiritual, pemeriksaan kesehatan rutin, dukungan kesehatan mental, serta penciptaan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
Sementara itu, Direktur Utama Bhakti Rahayu Group, Putu Ivan Yunatana, dalam materinya bertajuk Dari Kesehatan ke Lingkungan, untuk Masa Depan Berkelanjutan menyoroti persoalan lingkungan di Bali, khususnya sampah.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, volume timbulan sampah mengalami peningkatan signifikan dari 1,2 ton pada 2024 menjadi 3,4 ton pada 2025.
Namun demikian, menurut Ivan, permasalahan sampah juga membuka peluang ekonomi baru, seperti dalam pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan sampah menjadi energi terbarukan.
Dalam paparannya, Ivan juga menjelaskan profil Bhakti Rahayu Group sebagai holding company terintegrasi yang berawal dari layanan kesehatan dan berkembang ke berbagai lini bisnis strategis. Perjalanan perusahaan dimulai pada 1990 dengan berdirinya Rumah Sakit Bhakti Rahayu di Ambon, kemudian berekspansi ke Denpasar pada 1995, Surabaya pada 2002, dan Tabanan pada 2003.

Empat rumah sakit tersebut menjadi pondasi utama pertumbuhan perusahaan. Memasuki fase berikutnya, pada 2023 Bhakti Rahayu melakukan transformasi strategis dengan membentuk holding company PT Bhakti Rahayu Group guna mengintegrasikan berbagai unit usaha dan memperkuat tata kelola.
Saat ini, Bhakti Rahayu Group mengembangkan tiga pilar ekosistem terintegrasi, yakni sektor kesehatan, perangkat medis dan farmasi, serta lingkungan yang mencakup pengelolaan limbah B3 dan domestik, pengolahan sisa, hingga produksi produk ramah lingkungan berbasis pemberdayaan.
Diskusi dalam seminar berlangsung interaktif, dengan peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait kesehatan dan pengelolaan lingkungan.
Presiden JCI Bali 2026, Eka Arismana Wira Dharma, menyebut kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran bagi generasi muda, khususnya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring internasional.
“Sangat berterima kasih sama Bakti Rahayu Group. Kita bukan hanya melihat sudut pandang dari sisi kesehatan, di mana kesehatan itu kan sangat-sangat kompleks ya.
Tapi di sini kita diingatkan lagi pentingnya dari delapan aspek dari well being ya, yaitu wellness itu sendiri,” ujarnya saat diwawancarai usai kegiatan.
Eka juga setuju dari pernyataan Direktur Utama Bakti Rahayu Group, Putu Ivan Yunatana yang memandang sampah bukan sebagai bencana, melainkan sebagai peluang ekonomi terbarukan, pengelolaan sampah dapat menghasilkan energi baru sekaligus membuka potensi sumber pendapatan baru.
“Kegiatan hari ini seru, bahkan melebihi dari ekspektasi saya sendiri. Kita tidak hanya melihat dari sisi kesehatan yang kompleks, tetapi juga diingatkan tentang pentingnya delapan aspek wellbeing, serta bagaimana sampah bisa dilihat sebagai peluang ekonomi,” ujarnya saat diwawancarai usai kegiatan.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini membuka peluang kolaborasi lintas sektor. “Ini menarik sekali karena kita nggak hanya lihat produk recycle yang udah ada, tapi gimana sih caranya kita buat kerjasama dan juga untuk membantu lingkungan sekitar,” tambahnya.
Di akhir acara ini, para peserta juga berkesempatan melihat langsung berbagai produk hasil daur ulang sampah yang bernilai tinggi, serta mengikuti hospital tour untuk mengenal lebih dekat layanan dan fasilitas yang dimiliki RSU Bhakti Rahayu Tabanan. (M-011)
- Editor: Daton









