Prof. Laksono: Pemerintah Bali Belum Dukung Penuh Pengembangan Medical Wellness di Bali

Pro. Laksono
Dosen dan Guru Besar di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Prof. Laksono (kanan) dan KetuaBMTA, dr. I Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes (kiri) berssama narasumber lainnya saat diskusi pada Monev Medical Wellness Tourism Bali tertempat di Puri Satrian, Sanur Bali. (Foto: M-011)

DENPASAR – Dosen dan Guru Besar di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., menilai dukungan Pemerintah Provinsi Bali terhadap pengembangan sektor medical wellness tourism masih belum optimal, meski Bali memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata kesehatan berkelas dunia.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Medical Wellness Tourism Bali yang digelar di Hotel Puri Santrian, Sanur, Denpasar, Jumat (10/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri  Dinas Pariwisata Provinsi Bali,  Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI secara daring, direktur rumah sakit se-Bali, kalangan akademisi, hingga pelaku industri pariwisata.

Menurut Prof. Laksono, dalam tiga tahun terakhir perkembangan medical wellness di Bali sebenarnya menunjukkan tren positif. Jumlah penyelenggara terus bertambah dan aktivitas bisnis semakin ramai. Namun, pengembangannya belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Yang berhasil, penyelenggaranya semakin banyak dan semakin ramai. Tetapi belum sampai pada skala massal,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dibenahi agar Bali mampu bersaing dengan negara-negara lain yang lebih dulu mengembangkan wisata kesehatan.

Beberapa persoalan yang dinilai masih lemah antara lain kualitas sumber daya manusia (SDM), tingginya persaingan antarpenyelenggara, serta rendahnya kolaborasi antara sektor kesehatan dengan industri pariwisata.

BACA JUGA:  Obesitas Jadi Pintu Masuk Diabetes, Wamenkes Minta Masyarakat Ubah Cara Pandang

Selain itu, Prof. Laksono juga menyoroti minimnya investasi pemerintah daerah terhadap sektor yang dinilai memiliki prospek ekonomi sangat besar tersebut.

“Selama tiga tahun ini pemerintah Bali belum begitu mendukung. Pertanyaannya, siapa yang akan membiayai investasi medical wellness di Bali? Apakah pemerintah daerah juga siap berinvestasi?” katanya.

Ia menegaskan pengembangan medical wellness membutuhkan investasi jangka panjang. Karena itu, komitmen pemerintah daerah dinilai menjadi faktor penting agar Bali mampu menjadi destinasi medical wellness yang kompetitif di tingkat global.

Sementara itu, Ketua Bali Medical Tourism Association (BMTA), dr. I Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., mengatakan medical wellness tourism merupakan salah satu bentuk transformasi pariwisata Bali dari konsep mass tourism menuju quality tourism.

Menurutnya, selama ini Bali telah dikenal sebagai destinasi wisata dunia. Potensi tersebut perlu dipadukan dengan layanan kesehatan berkualitas sehingga mampu menciptakan produk wisata baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Medical wellness merupakan bagian dari wellness economy yang berkembang sangat pesat, terutama setelah pandemi Covid-19. Bali memiliki peluang besar karena sudah dikenal sebagai destinasi wisata internasional sekaligus memiliki fasilitas kesehatan yang terus berkembang,” ujarnya.

BACA JUGA:  Dieng Caldera Race 2026 Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Wonosobo

Ia menjelaskan, BMTA dibentuk sebagai wadah kolaborasi antara rumah sakit, klinik, pelaku industri pariwisata, hingga pemerintah dalam membangun ekosistem medical wellness yang terintegrasi.

Menurut dr. Patra, pengembangan medical wellness tidak hanya berbicara mengenai pelayanan medis, tetapi juga mencakup aspek kebugaran, kesehatan mental, kecantikan, pengobatan tradisional, hingga lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat.

“Bali memiliki modal yang sangat kuat, mulai dari citra sebagai destinasi wisata, komunitas internasional yang besar, hingga fasilitas kesehatan yang sudah menjadi rujukan bagi wilayah Indonesia timur. Ini menjadi peluang untuk menciptakan produk medical wellness khas Bali,” katanya.

Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut, BMTA berharap seluruh pemangku kepentingan dapat menyusun langkah strategis guna mempercepat pengembangan medical wellness tourism sebagai salah satu penggerak ekonomi baru di sektor pariwisata Bali. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top