Rabu, 29 Mei, 2024

DENPASAR,MENITINI.COM – Selamat Hari Diabetes Sedunia! Pada tanggal 14 November setiap tahunnya, World Diabetes Day mempromosikan kesadaran akan diabetes. Walaupun sudah cukup lama kita sadari kemunculannya, rupanya masih banyak yang kurang peduli akan urgensi diabetes. Mungkin masih banyak yang mengira diabetes hanya untuk lansia saja. Belum lagi tentang 2 tipe diabetes yang sering tertukar. Mari kita tengok satu persatu!

Tipe-Tipe Diabetes

Terdapat 2 tipe diabetes, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang dan menghancurkan sel beta penghasil insulin di pankreas. Hilangnya sel beta terjadi selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun, yang mengakibatkan kekurangan insulin total. Penyebab diabetes tipe 1 adalah adanya interaksi kompleks antara berbagai faktor genetik dan lingkungan, termasuk infeksi virus, paparan racun, atau pola makan anak usia dini.

Bedanya, diabetes tipe 2 bukanlah penyakit autoimun, lebih kepada faktor gaya hidup. Kondisi ini berkembang perlahan seiring waktu ketika tubuh seseorang berhenti merespons insulin. Produksi insulin mungkin menurun seiring dengan perkembangan kondisi dan sel beta berhenti berfungsi. Meskipun faktor genetik berkontribusi terhadap kejadian tipe 2, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik, dan kelebihan berat badan atau obesitas, cenderung memainkan peran yang lebih besar dalam kejadian penyakit ini.

Karena penyebabnya cukup berbeda, maka antara tipe 1 dan tipe 2 bukanlah suatu kondisi yang dapat dipertukarkan. Berikut 6 pokok pembeda antar tipe:

  • Prevalensi: Diabetes tipe 1 lebih jarang terjadi dibandingkan tipe 2.
  • Usia timbul: Diabetes tipe 1 berkembang pada masa kanak-kanak atau dewasa muda, sedangkan tipe 2 lebih sering pada dewasa muda hingga lansia.
  • Permulaan penyakit: Gejala diabetes tipe 1 muncul secara tiba-tiba dan intens. Gejala tipe 2 muncul secara bertahap dan mungkin melibatkan gejala resistensi insulin.
  • Tipe tubuh: Kebanyakan penderita diabetes tipe 2 kelebihan berat badan atau obesitas. Penderita tipe 1 cenderung kurus.
  • Terapi insulin: Hampir semua penderita diabetes tipe 1 selalu memerlukan suntikan insulin, sedangkan tidak selalu pada penderita tipe 2.
  • Pencegahan: Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah, sedangkan tipe 2 dapat ditunda atau dicegah dengan perbaikan gaya hidup.

Diagnosis Tipe Diabetes

Tidak ada tes darah atau kriteria formal yang dapat membedakan antara diabetes tipe 1 dan tipe 2. Umumnya, tenaga kesehatan mendiagnosis berdasarkan gejala, riwayat kesehatan, dan hasil tes darah atau urin. Kesalahan diagnosis kemungkinan besar terjadi ketika usia seseorang tidak sesuai dengan usia awal timbulnya penyakit. Sering sekali jika peta usia tidak sesuai, kita cenderung mengabaikan tipe yang lainnya. Walau kenyataannya, dewasa ini terjadi pergeseran kejadian diabetes pada kelompok usia yang lebih muda.

Terdapat beberapa tes yang dapat membantu membedakan antara keduanya. Tes-tes ini meliputi:

  • Tes antibodi darah

Antibodi adalah protein hasil produk sistem kekebalan untuk mempertahankan tubuh. Pada penyakit autoimun, antibodi keliru diproduksi untuk menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Pada kasus diabetes tipe 1, sel beta pankreas ikut diserang. Hasilnya, antibodi ini hanya terdapat pada diabetes tipe 1.

  • C-peptide urin

C-peptide adalah zat yang dibuat ketika pankreas memproduksi insulin. Penderita diabetes tipe 1 akan memiliki C-peptide yang rendah atau tidak terdeteksi dalam urin karena pankreasnya tidak memproduksi banyak insulin. Selain lewat urin, kadar C-peptide juga dapat diperiksa dalam darah.

Ketergantungan Insulin

Penderita diabetes tipe 1 dan 2 sama-sama memiliki kadar glukosa darah tinggi yang tidak normal. Namun pengobatan untuk mengatasi kondisi ini cukup berbeda. Penderita diabetes tipe 1 bergantung pada insulin karena mereka tidak memiliki atau sangat sedikit sel beta untuk membuat insulin. Tubuh mereka telah menghancurkan sel beta ini. Oleh karena itu, penderita tipe 1 harus mendapat pengobatan suntikan insulin segera setelah diagnosis. Bahkan pada beberapa kasus, sampai harus menggunakan pompa insulin otomatis.

Sebaliknya, penderita tipe 2 mengalami kondisi resistensi insulin. Fokus pengobatan untuk membantu tubuh memanfaatkan insulin alami produk dari pankreas dengan lebih baik. Pengobatan awal diabetes tipe 2 berfokus pada perubahan gaya hidup, terutama penurunan berat badan. Dalam beberapa kasus berkelanjutan, dokter akan memberi resep obat minum untuk meningkatkan pelepasan insulin alami atau menurunkan resistensi insulin. Insulin hanya akan diberikan jika setelah intervensi gaya hidup dan obat gagal mengontrol kadar glukosa tubuh.

Kesimpulan

Jika Anda atau keluarga Anda didiagnosis menderita diabetes tipe 1 atau 2, penting untuk menindaklanjuti rencana pengobatan yang diperlukan. Kedua bentuk diabetes ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada berbagai organ di tubuh Anda, termasuk ginjal dan jantung, jika tidak ditangani dengan tepat. Apalagi sangat penting untuk membedakan keduanya, jangan sampai tertukar tipe.

Walau tipe 2 lebih santer terdengar, jangan abaikan kemungkinan tipe 1. Secara khusus, kesalahan diagnosis diabetes tipe 1 dapat menimbulkan konsekuensi lebih serius dan mengancam nyawa. Ketika terjadi kesalahan diagnosis, tubuh dapat jatuh dalam kondisi ketoasidosis. Kondisi ini terjadi ketika tubuh memproduksi asam keton beracun akibat kekurangan insulin dan gula darah tinggi. Mari kita pahami dan sadari bersama-sama bahwa diabetes bukan penyakit yang perlu disepelekan! (M-010)