Indonesia Dorong Inovasi Digital dan Pemberdayaan UMKM Pariwisata di Forum APEC 2026

Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata APEC ke-13 (The 13th APEC Tourism Ministerial Meeting/TMM13) yang berlangsung di Makau SAR, Republik Rakyat Tiongkok, 27 Juni 2026.
Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata APEC ke-13 (The 13th APEC Tourism Ministerial Meeting/TMM13) yang berlangsung di Makau SAR, Republik Rakyat Tiongkok, 27 Juni 2026. (Foto: Kemenpar)

MAKAU, Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat sektor pariwisata Asia-Pasifik melalui inovasi digital, pemberdayaan masyarakat dan UMKM, serta kolaborasi antarnegara dalam Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata APEC ke-13 (The 13th APEC Tourism Ministerial Meeting/TMM13) yang berlangsung di Makau SAR, Republik Rakyat Tiongkok, 27 Juni 2026.

Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan pariwisata memiliki peran strategis sebagai penggerak ketahanan ekonomi, inovasi digital, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.

“Sebagai negara yang sedang menjalani transformasi digital secara masif, Indonesia percaya bahwa titik temu antara teknologi pintar dan kolaborasi yang berpusat pada komunitas merupakan cara yang tepat untuk membangun ekosistem pariwisata yang tangguh, inklusif, dan terintegrasi di seluruh kawasan,” ujar Widiyanti dalam forum yang dihadiri delegasi dari 21 ekonomi anggota APEC.

Menurutnya, pandangan tersebut sejalan dengan tema TMM13, yakni “Digital and Intelligent Innovation, Collaborative Empowerment: Leveraging Tourism for an Asia-Pacific Community”.

Dalam pertemuan itu, Indonesia juga menegaskan dukungannya terhadap implementasi APEC Tourism Strategic Plan 2025–2029, Putrajaya Vision 2040, serta berbagai rekomendasi yang tertuang dalam kajian APEC terkait peningkatan efektivitas fasilitasi perjalanan wisatawan di kawasan.

“Indonesia siap berperan aktif di bawah keketuaan Tiongkok guna mewujudkan komunitas Asia-Pasifik yang terbuka, dinamis, tangguh, dan kolaboratif,” kata Widiyanti.

Pada sesi pembahasan mengenai pemanfaatan teknologi digital dan teknologi baru dalam pengembangan pariwisata, Indonesia menekankan bahwa inovasi digital harus menjadi jembatan transformasi dari pariwisata massal menuju pariwisata yang bernilai tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan.

Widiyanti mengungkapkan, sektor pariwisata saat ini menjadi sumber mata pencaharian bagi sekitar 25,91 juta tenaga kerja dan merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbesar ketiga di Indonesia. Karena itu, transformasi digital harus tetap bersifat inklusif dengan memperkecil kesenjangan literasi digital dan memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal.

BACA JUGA:  Bupati Sanjaya Buka Parade Gebogan dan Baleganjur di Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali

Salah satu inisiatif yang disampaikan Indonesia adalah perluasan pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di kawasan APEC guna mempermudah transaksi lintas negara sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi. Di dalam negeri, QRIS juga dinilai mampu membantu pelaku usaha lokal menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain itu, Indonesia menyampaikan tiga prioritas utama untuk mendukung transformasi digital sektor pariwisata di kawasan APEC.

Prioritas pertama adalah memperkuat ekosistem digital bagi UMKM pariwisata melalui peningkatan akses dan kapasitas dalam memanfaatkan infrastruktur digital. Langkah ini diharapkan dapat memperluas manfaat ekonomi hingga ke masyarakat di berbagai daerah.

Prioritas kedua adalah penguatan pengelolaan destinasi wisata secara cerdas atau smart destination management. Melalui program Tourism 5.0, Kementerian Pariwisata telah mengembangkan MaiA, perencana perjalanan digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk meningkatkan visibilitas destinasi dan menghadirkan pengalaman wisata yang lebih personal bagi wisatawan.

Sementara itu, prioritas ketiga adalah peningkatan literasi digital sumber daya manusia pariwisata melalui berbagai program peningkatan kapasitas agar tenaga kerja sektor pariwisata mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Inovasi digital harus menjadi alat yang mempersatukan, bukan penghalang bagi pengembangan yang inklusif. Indonesia siap berkolaborasi dengan seluruh ekonomi APEC untuk membangun masa depan pariwisata yang maju secara teknologi, tangguh, inklusif, dan memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal,” tegas Widiyanti.

BACA JUGA:  Indonesia Naik ke Peringkat Dua Destinasi Ramah Muslim Dunia di GMTI Awards 2026

Pada akhir pertemuan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Rakyat Tiongkok selaku Ketua TMM13 menerbitkan Chair’s Statement yang merangkum berbagai pandangan dan kesepahaman yang disampaikan para anggota APEC. Forum tersebut juga menetapkan Meksiko sebagai tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata APEC berikutnya pada 2028.

Perkuat Kerja Sama Pariwisata dengan Korea Selatan

Di sela-sela agenda TMM13, Widiyanti juga menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Republik Korea, Chae Hwi Young.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Republik Korea yang selama ini menjadi salah satu dari 10 pasar utama wisatawan mancanegara bagi Indonesia. Pemerintah Indonesia juga menyambut baik kebijakan pembebasan sementara persyaratan visa bagi rombongan wisatawan Indonesia yang mulai diberlakukan Korea Selatan sejak 28 Mei 2026.

Kedua negara juga membahas peluang peningkatan kerja sama di sektor pariwisata, mulai dari promosi bersama dengan Korea Tourism Organization dan agen perjalanan hingga pengembangan wisata gastronomi yang semakin diminati wisatawan.

“Dengan kesamaan visi dalam kerangka APEC dan UN Tourism, Indonesia dan Republik Korea memiliki peluang besar untuk membawa kerja sama pariwisata ke tingkat yang lebih maju dan memberikan manfaat nyata bagi kedua negara,” ujar Widiyanti. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top