Bank Dunia Peringatkan Meningkatnya Risiko Resesi Global

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dan Presiden Bank Dunia David Malpass mengumumkan program bantuan COVID-19 pada konferensi pers di Washington. (Foto dokumen oleh: REUTERS /Liu Jie/Xinhua / Kantor Berita Amerika Latin)

WASHINGTON,MENITINI.COM-Pada Senin (10/10/2022) Presiden Bank Dunia David Malpass dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, memperingatkan tentang meningkatnya risiko resesi global. Mereka juga mengatakan inflasi tetap menjadi masalah yang berkelanjutan setelah invasi Rusia ke Ukraina.

“Ada risiko dan bahaya nyata dari resesi dunia tahun depan,” kata Malpass dalam dialog dengan Georgieva pada awal pertemuan langsung pertama kedua lembaga itu sejak pandemi COVID-19, seperti dikutip ANTARA.

Dia mengutip perlambatan pertumbuhan di negara-negara maju dan depresiasi mata uang di banyak negara berkembang, serta kekhawatiran inflasi yang sedang berlangsung.

Ketua IMF pekan lalu mengatakan pemberi pinjaman global itu akan menurunkan perkiraannya untuk pertumbuhan global 2,9 persen pada 2023 ketika merilis World Economic Outlook pada Selasa (4/10), mengutip guncangan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, invasi Rusia ke Ukraina dan bencana iklim di seluruh benua.

BACA JUGA:  Ini Lima Tips Hadapi Resesi Global Buat Kamu

Pada Senin (10/10), dia mencatat bahwa aktivitas ekonomi melambat di ketiga ekonomi utama – Eropa, yang telah terpukul keras oleh harga gas alam yang tinggi, China, di mana volatilitas perumahan dan gangguan COVID-19 menyeret turun pertumbuhan, dan Amerika Serikat, di mana kenaikan suku bunga “mulai menggigit.”

Perlambatan pertumbuhan di negara-negara maju, kenaikan suku bunga, risiko iklim dan berlanjutnya harga pangan dan energi yang tinggi sangat memukul negara-negara berkembang, kata kedua pemimpin itu, menyerukan tindakan bersama untuk membantu negara-negara emerging markets.

Georgieva, ketua IMF pertama dari sebuah ekonomi emerging market, mengatakan negara-negara ekonomi maju perlu “mengendalikan bahaya besar dan menakutkan dari krisis utang” karena itu akan mempengaruhi semua negara, bukan hanya mereka yang memiliki beban utang tinggi.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi: Bank Dunia Prediksi 60 Negara Akan Ambruk Perekonomiannya

“Bukan gambaran yang cerah. Tetapi jika kita bergabung, jika kita bertindak bersama, kita dapat mengurangi rasa sakit yang ada di depan kita pada 2023.”

Georgieva mengatakan IMF akan mengadvokasi minggu ini agar bank-bank sentral melanjutkan upaya mereka untuk menahan inflasi, meskipun berdampak negatif pada pertumbuhan.

Jika mereka tidak melakukan cukup, katanya, “kita berada dalam masalah… Kita tidak bisa membiarkan inflasi menjadi kereta pelarian.”

Langkah-langkah fiskal harus “ditargetkan dengan baik” untuk memastikan mereka tidak menambahkan lebih banyak “bahan bakar ke api inflasi.”

Malpass, yang mendapat kecaman bulan lalu karena menolak mengatakan apakah dia menerima konsensus ilmiah tentang pemanasan global, mengatakan para pejabat di bank tersebut bekerja keras untuk membebaskan lebih banyak dana guna mengatasi masalah iklim yang dihadapi begitu banyak negara berkembang.

BACA JUGA:  Sultan Brunei Tamu Negara Pertama Bertemu Jokowi Sebelum Pelantikan

Georgieva mengatakan dunia membutuhkan 3 triliun dolar AS hingga 6 triliun dolar AS yang mengejutkan untuk mengatasi perubahan iklim dan penting untuk meningkatkan kolaborasi dengan sektor swasta dan memanfaatkan dana “skala besar” untuk membantu memenuhi kebutuhan.

Sumber: ANTARA