Awas! Pandemi Merangsang Perilaku Agresif

ilustrasi perilaku agresif

Kaitan Pandemi dan Perilaku Agresif

Berdasarkan penelitian dari Murdoch University, peningkatan perilaku agresif ternyata memiliki kaitan dengan pandemi, lho! Salah satu teori yang diterima saat ini adalah Frustation Agression Hypothesis (FAH). Teori ini memiliki landasan tertutupnya akses tujuan menyebabkan frustasi. Frustasi berlarut-larut menyebabkan kemarahan terpendam. Ketidakmampuan mengatasi kemarahan terpendam terwujud dalam bentuk agresi. Kontinuitas ini dapat meningkatkan adrenalin dalam tubuh manusia. Pada kondisi ini jika individu mendapat rangsang yang sesuai dengan penyebab frustasi utamanya walau sedikit dapat terjadi perilaku agresif.

BACA JUGA:  Kemenkes Terbitkan Aturan Untuk Cegah Konsumsi Gula Berlebih

Sekarang kita telaah dengan kondisi pandemi!

Sudah lebih dari 2 tahun kita bergelut dengan pandemi yang tidak jelas ujungnya. Regulasi yang ada terus berubah. Dari poin tersebut sudah dapat menimbulkan frustasi pada seseorang. Pencetus agresi? Tambahan varian yang terdengar tiap saat seperti launching smartphone, ketidakpastian ekonomi, ketakutan dan pembatasan sosial. Dari seluruh faktor tersebut, manusia menjadi terbatas ruang geraknya dan merasa tidak dapat memecahkan frustasinya. Sama seperti pandemi yang memiliki puncak, kondisi ini suatu waktu akan memuncak dan terwujud sebagai perilaku agresif jika tidak dapat mengontrol mekanisme coping dengan baik.

BACA JUGA:  ILDI Badung Gelar Gathering dan Senam Sehat, Gaungkan Semangat Kartini
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top