Ancaman Iran ke Arab Saudi Membuat Prihatin AS

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (kanan) dan Presiden AS Joe Biden menghadiri KTT Keamanan dan Pembangunan Jeddah di Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (16/7/2022).
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (kanan) dan Presiden AS Joe Biden menghadiri KTT Keamanan dan Pembangunan Jeddah di Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (16/7/2022). (Foto: ANTARA FOTO/Mandel Ngan/Pool via REUTERS
/aww)

WASHINGTON, Amerika Serikat merasa prihatin dengan ancaman Iran terhadap Arab Saudi. Juru bicara Gedung Putih pada Selasa (01/11/2022) mengatakan, tidak akan ragu untuk menanggapinya jika perlu, untuk membela kepentingan dan mitranya di kawasan tersebut.

“Kami prihatin dengan gambar ancaman itu, dan AS tetap berkomunikasi terus-menerus melalui saluran militer dan intelijen dengan Saudi,” ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS seperti dikutip ANTARA.

“Kami tidak akan ragu untuk bertindak dalam membela kepentingan dan mitra kami di kawasan ini,” katanya.

BACA JUGA:  Pencabutan Aturan Emisi PLTU Batu Bara di AS Picu Kekhawatiran Lonjakan Polusi

Pejabat AS itu menyampaikan hal tersebut setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa Arab Saudi telah berbagi informasi intelijen dengan Amerika Serikat untuk memperingatkan tentang sebuah serangan yang akan segera terjadi dari Iran terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi.

Amerika Serikat sebelumnya mengatakan bahwa Iran telah memasok Rusia dengan pesawat nirawak (drone) untuk digunakan dalam perangnya melawan Ukraina.

Dugaan penggunaan drone Iran –oleh Rusia untuk menyerang Ukraina– mendorong Washington untuk mengesampingkan upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran, yang sempat ditinggalkan oleh Presiden AS Donald Trump pada 2018.

BACA JUGA:  GCC Pertimbangkan Respons atas Serangan Rudal dan Drone Iran ke Negara Teluk

Presiden Joe Biden dalam beberapa pekan terakhir telah berselisih dengan Arab Saudi setelah organisasi OPEC+ yang dipimpin Saudi memutuskan untuk memangkas produksi minyak.

Pengurangan produksi minyak oleh OPEC+ menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan harga bensin di Amerika Serikat.

Sumber: ANTARA

Iklan

BERITA TERKINI

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top