JAKARTA,MENITINI.COM – Perubahan cepat akibat adopsi kecerdasan buatan (AI) mulai memengaruhi strategi perekrutan di berbagai perusahaan. Di satu sisi, profesional senior dinilai lebih unggul karena pengalaman dan kematangan berpikir. Namun di sisi lain, generasi muda atau Gen Z justru khawatir tertinggal dalam persaingan kerja.
Padahal, kombinasi keduanya dinilai menjadi kunci bagi organisasi untuk bertahan dan berkembang di era AI. Hal ini mengemuka dalam episode perdana podcast Power Talks yang digagas oleh Jobstreet by SEEK.
Chief People Officer tiket.com, Dudi Arisandi, menekankan bahwa perusahaan perlu mengubah pendekatan dalam mengelola sumber daya manusia agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Menurut Dudi, ada sejumlah strategi yang bisa diterapkan perusahaan untuk menjembatani kesenjangan antara Gen Z dan profesional senior.
Pertama, perusahaan didorong untuk beralih ke rekrutmen berbasis keterampilan. Ia menilai praktik seleksi yang masih berfokus pada usia atau latar belakang pendidikan perlu ditinggalkan. “Yang utama adalah kemampuan kandidat dalam menjalankan pekerjaannya,” ujarnya.
Kedua, perusahaan diminta berhenti memberi label negatif terhadap Gen Z. Alih-alih menyalahkan, organisasi perlu memberikan ruang pengembangan, terutama pada aspek soft skill seperti komunikasi, kolaborasi, hingga pengambilan keputusan.
Ketiga, konsep reverse mentoring perlu mulai diterapkan secara luas. Dalam skema ini, profesional senior dan junior saling berbagi pengetahuan. Senior memberikan pengalaman dan intuisi bisnis, sementara Gen Z membawa keunggulan dalam penguasaan teknologi dan kreativitas.
Selanjutnya, Dudi mengingatkan bahwa ketergantungan pada hard skill semata tidak lagi cukup. Banyak pekerjaan teknis kini bisa diotomasi oleh AI, sehingga kemampuan berpikir analitis, pengambilan keputusan, dan manajemen relasi menjadi semakin penting.
Terakhir, ia memperkenalkan kerangka strategi SDM “5B”, yakni Build (mengembangkan talenta internal), Buy (merekrut dari luar), Borrow (memanfaatkan tenaga eksternal), Bridging (rotasi lintas fungsi), serta Bot (otomasi dengan teknologi). Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan organisasi yang lebih tangguh dan fleksibel.
“Teknologi dan AI akan terus mengubah cara kita bekerja, tapi yang tidak berubah adalah nilai dari manusia yang mau belajar dan berkolaborasi,” kata Dudi.
Sementara itu, Head of Country Marketing Indonesia Jobstreet by SEEK, Sawitri, menyebut podcast Power Talks dihadirkan sebagai ruang diskusi antara praktisi HR, pelaku bisnis, dan pencari kerja.
Ia berharap, berbagai wawasan yang dibagikan dalam program tersebut dapat membantu perusahaan membangun tim yang lebih kuat dan adaptif di tengah dinamika dunia kerja yang terus berubah.
Podcast Power Talks sendiri mengangkat topik seputar transformasi HR, pengembangan karier, hingga masa depan dunia kerja di Indonesia, dengan menghadirkan para pemimpin industri sebagai narasumber. Episode terbaru dirilis secara berkala setiap bulan melalui kanal digital resmi mereka. (M-011)
- Editor: Daton









