Wamenkes: Masa Depan Kesehatan Indonesia Ditentukan Upaya Promotif dan Preventif

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Prof. Dante Saksono Harbuwono
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Prof. Dante Saksono Harbuwono saat menjadi keynote speaker pada Dies Natalis ke-61 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) di Depok, Rabu (29/7). (Foto: Kemenkes)

DEPOK,MENITINI.COM-Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menegaskan pembangunan kesehatan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 tidak lagi dapat bergantung pada layanan kuratif semata. Menurutnya, penguatan upaya promotif dan preventif menjadi kunci untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan di masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Dante saat menjadi keynote speaker pada Dies Natalis ke-61 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) di Depok, Rabu (29/7), yang mengusung tema “FKM Bertumbuh: Sehat Utuh dan Masyarakat Tangguh.”

Menurut Dante, pelayanan kesehatan hanya menyumbang sekitar 20 persen terhadap derajat kesehatan masyarakat. Sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan lingkungan.

“Kalau kita petakan masalah kesehatan menuju tahun 2045, layanan kesehatan hanya berkontribusi sekitar 20 persen. Selebihnya ditentukan oleh gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, penyelesaian masalah kesehatan masyarakat membutuhkan pemimpin, peneliti, dan penyusun kebijakan dari bidang kesehatan masyarakat,” ujarnya, dikutip dari laman Kemkes, 28/7).

Ia mengungkapkan Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan kesehatan yang kompleks, mulai dari tingginya angka perokok usia muda, rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja, kemiskinan, stunting, hingga dampak urbanisasi dan perubahan iklim.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan pengobatan. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang didukung kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) agar intervensi yang dilakukan lebih efektif.

BACA JUGA:  Tapering Jadi Kunci Performa Marathon, Pelari Diimbau Hindari Panic Training Jelang Race Day

Dalam kesempatan itu, Dante menekankan tiga peran strategis institusi pendidikan kesehatan masyarakat dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional. Pertama, mencetak lulusan yang memiliki kemampuan kepemimpinan, analisis data, serta mampu mengeksekusi solusi kesehatan di lapangan. Kedua, menjadi mitra pemerintah dalam mendukung transformasi kesehatan melalui rekomendasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Ketiga, memperkuat kolaborasi internasional untuk mendorong lahirnya kebijakan kesehatan global sekaligus membuka peluang kerja sama riset dan pendanaan.

Ia juga menyoroti pentingnya kontribusi lulusan kesehatan masyarakat di berbagai organisasi internasional seperti WHO, GAVI, UNICEF, World Bank, dan Global Fund.

“Banyak tokoh dunia yang berlatar belakang kesehatan masyarakat memimpin organisasi internasional. Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat lahir dari kebijakan yang tepat,” katanya.

Dante turut mengajak mahasiswa menjadi agen perubahan yang mampu menjawab tantangan kesehatan masyarakat, serta mendorong perguruan tinggi melahirkan pemimpin kesehatan masyarakat yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global.

Mengutip pakar kesehatan masyarakat Alfred Sommer, Dante menegaskan bahwa esensi kesehatan masyarakat adalah menyelamatkan jutaan nyawa melalui kebijakan dan upaya pencegahan.

BACA JUGA:  Rumah Sakit Bhakti Rahayu Tabanan Uji Coba Mesin Komposter, Kelola Sampah Organik Secara Mandiri

Sementara itu, Dekan FKM UI Prof. Indri Hapsari Susilowati mengatakan tema Dies Natalis ke-61 menegaskan bahwa kesehatan harus dipahami secara utuh, tidak sekadar bebas dari penyakit, tetapi juga mampu membentuk masyarakat yang tangguh, adaptif, dan resilien menghadapi berbagai tantangan.

Pada usia ke-61, FKM UI berkomitmen memperkuat perannya sebagai fakultas kesehatan masyarakat terdepan melalui penguatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola yang berintegritas.

“Usia ke-61 menjadi momentum bagi FKM UI untuk terus bertumbuh dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kesehatan Indonesia maupun dunia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Rektor UI Prof. Heri Hermansyah menyampaikan FKM UI telah menjadi salah satu pilar penting pembangunan kesehatan nasional melalui kontribusi para alumninya di berbagai daerah, dunia industri, hingga penyusunan kebijakan publik.

Ia berharap FKM UI terus memperkuat kepemimpinan di bidang kesehatan masyarakat serta menghasilkan inovasi dan rekomendasi kebijakan yang memberikan dampak luas bagi pembangunan kesehatan nasional maupun global.  (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top