Sabtu, 18 Mei, 2024

TPA Suwung terbakar, asap membumbung tinggi. (foto: Istimewa)

BADUNG, MENITINI.COM – Selain menyiapkan PDU dan TPST Mengwitani, Dinas LHK Badung juga menyiapkan 36 TPS3R di masing-masing desa.  

Hal ini mengantisipasi penutupan TPA Suwung selama pelaksanaan World Water Forum (WWF) 2024 yang diselenggarakan di Nusa Dua.  

Sebanyak 250 ton sampah per hari di Badung akan ditampung sementara di tempat tersebut, sebagai tindaklanjut penutupan sementara operasional TPA Suwung.

Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung, AA Gede Dalem menerangkan, jumlah sampah per hari yang diproduksi di Kabupaten Badung sebesar 250 ton.

Sampah tersebut sementara ditampung di PDU Mengwitani, TPST Mengwitani dan 36 TPS3R di Badung. Hal tersebut untuk menyikapi rencana penutupan operasional TPS Suwung saat gelaran WWF 2024 Bali.  

BACA JUGA:  Selesai Jalani Hukuman Kasus Narkoba, WNA Rusia Dideportasi 

“Saat ini Badung menghasilkan sekitar 550-600 ton sampah per hari. Sebagian besar sudah diolah di TPS3R, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Mengwitani, dan Pusat Daur Ulang (PDU) Mengwitani. Jadi sampah yang seharusnya dibawa ke TPA Suwung hanya sekitar 250 ton per hari,”  katanya belum lama ini.

Semua lahan di TPS3R tidak dikosongkan karena jarang penuh. Sedangkan di PDU Mengwitani dan TPST Mengwitani saat ini kondisinya sudah kosong dan sudah siap digunakan selama dua hari saat puncak WWF.

Ia berharap penyesuaian operasional dan penambahan infrastruktur ini, pengelolaan sampah selama WWF 2024 dapat berjalan lancar dan efisien, sekaligus menjaga kebersihan dan keindahan alam Bali selama dan setelah event berlangsung. 

BACA JUGA:  Dua TPS Tutup, Sampah Berserakan, DLHK Diminta Tambah Armada

Pihaknya berharap penutupan operasional TPA Suwung oleh Pemerintah Provinsi Bali hanya dilakukan dua hari full saat puncak acara.

Dengan demikian jumlah sampah yang ditampung Pemkab Badung di tempat-tempat yang disediakan hanya berjumlah 500 ton per hari.

Sebelum puncak WWF dilaksanakan, ia berharap operasional TPA Suwung dapat dirubah menjadi malam hari. “Kami sudah berkoordinasi dengan TPA Suwung, kalau TPA itu beroperasional malam hari. Penutupannya dua hari saja.  Dari provinsi belum menyetujui masih dianalisis,” katanya. (M-003)

  • Editor: Daton