Perubahan dimulai dari langkah yang sangat sederhana. Saat itu, Agustina menjadi satu-satunya guru. “Saya sendiri, belum ada guru lain. Masyarakat juga tidak tahu ada sekolah di situ karena tertutup hutan,” katanya. Melihat banyak anak yang putus sekolah dan belum mampu berbahasa Indonesia, ia mengambil inisiatif mendirikan asrama kecil di belakang rumah dinasnya. “Itu ide saya untuk menyelamatkan anak-anak,” ujarnya.
Asrama sederhana tersebut menjadi ruang awal pembelajaran—bukan hanya akademik, tetapi juga kehidupan. Pagi hari digunakan untuk belajar, malam hari untuk bimbingan tambahan. Anak-anak yang sebelumnya tak memiliki seragam, sepatu, atau perlengkapan sekolah mulai mendapatkan perhatian. Bersama suaminya, Agustina bahkan membeli kebutuhan dasar siswa agar mereka bisa mengikuti upacara kemerdekaan dengan layak.
Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Jumlah murid meningkat, guru-guru mulai berdatangan, dan perhatian pemerintah daerah pun tumbuh. Dari hanya sekitar 30 siswa, kini SD Negeri Muko Tanah Merah memiliki sekitar 220 siswa. Sekolah ini bahkan berkembang menjadi sekolah model di Distrik Yaro. “Disiplin yang saya tanamkan bagi anak-anak dan guru-guru membawa kemajuan,” tutur Agustina.
Asrama Honai Cista di Desa Muko, Nabire, berdiri dengan dukungan Bosch Indonesia untuk menjawab tantangan anak-anak pedalaman yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan. Dengan asrama yang layak, kebutuhan pokok yang terpenuhi, serta lingkungan belajar yang aman, anak-anak dapat belajar dengan lebih optimal dan menumbuhkan harapan baru bagi masa depan mereka.
Dukungan tersebut tidak berhenti pada penyediaan fasilitas tinggal. Bosch Indonesia juga menyalurkan bantuan 15 unit laptop yang memungkinkan siswa mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) secara mandiri. “Dengan bantuan laptop dari Bosch, kami tidak perlu menumpang sekolah lain. Biarpun kami di daerah pinggiran, anak-anak bisa bersaing dengan sekolah kota,” ujarnya bangga.









