Menurutnya, pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan pengolahan sampah berbasis energi tidak terlepas dari budaya masyarakat yang terbiasa memilah sampah. Kondisi tersebut, kata Eko, masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia dan membutuhkan edukasi berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya strategi nasional yang mendorong pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga. Langkah sederhana tersebut diyakini dapat mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus memastikan bahan baku PSEL benar-benar layak diolah.
“Ini soal pembiasaan. Kalau dimulai dari rumah, pengelolaan sampah di tahap berikutnya akan jauh lebih terkendali dan membantu kelancaran implementasi PSEL,” ujarnya.
Pemerintah sendiri tengah memacu realisasi proyek PSEL seiring tingginya timbulan sampah di kawasan perkotaan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan, rata-rata timbunan sampah harian di sejumlah kota besar telah mencapai sekitar 1.000 ton per hari.









