Pernyataan itu mencerminkan kondisi komunitas paling rentan yang berada di garis depan krisis iklim. Masyarakat adat terus mempertahankan hutan dan keanekaragaman hayati, sementara masyarakat pesisir kehilangan ruang hidup akibat abrasi, banjir rob, dan aktivitas PLTU di sekitar permukiman.
Gerakan Tumbuh dari Akar Rumput
Melihat kenyataan tersebut, solidaritas anak muda tumbuh dari komunitas. Fathan menyebut sejumlah organisasi seperti Asihkan Bumi di Sukabumi, KARBON di Cirebon, LPM Al Fikr di Paiton, hingga Formma di Mentawai sebagai contoh gerakan yang mengakar.
Di Mentawai, Formma menolak izin baru Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) demi menjaga hutan sebagai sumber hidup masyarakat adat. Sementara Asihkan Bumi dan KARBON aktif menolak kebijakan co-firing biomassa, dengan mengolah data menjadi narasi yang mudah dipahami publik.
Beragam inisiatif itu menunjukkan bahwa gerakan iklim Indonesia tumbuh dari solidaritas komunitas yang saling menopang, bukan dari solusi palsu yang hanya menyamarkan kerusakan.
“Yang utama adalah mengorganisir diri, memperluas dan memperdalam gerakan orang muda. Hanya masyarakat yang terorganisir yang bisa mengalahkan uang yang terorganisir,” tegas Ginanjar.
Banjir yang datang silih berganti, rumah yang tenggelam, dan hutan yang hilang menjadi pengingat bahwa waktu kian menipis. Di tengah krisis yang makin nyata, anak muda Indonesia menyampaikan pesan sederhana namun mendesak: hentikan solusi palsu, dan wariskan bumi yang masih layak dihuni.*
- Editor: Daton









