Dampak kehadiran asrama dan sekolah ini paling nyata terlihat dari kisah para alumninya. Salah satunya Penus Morim, siswa angkatan pertama penghuni asrama. “Penus sudah bekerja di Dinas Perhubungan dan ditempatkan di bandara,” kata Agustina. Sejumlah alumni lain melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Manokwari hingga Medan. Bagi Agustina, setiap capaian tersebut menjadi bukti bahwa akses pendidikan yang setara mampu mengubah arah hidup anak-anak pedalaman.
Namun, menjaga keberlanjutan dampak itu bukan perkara mudah. Di balik berbagai capaian, asrama masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Peran orang tua di asrama masih terbatas. “Kepedulian orang tua hanya sekitar dua sampai tiga persen,” ungkapnya. Dalam banyak situasi, Agustina harus turun langsung mengurus anak-anak, termasuk ketika mereka sakit. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan sistem yang lebih mandiri agar kegiatan asrama dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Kesadaran akan pentingnya kemandirian tersebut kemudian diperkuat melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Bosch berkolaborasi dengan masyarakat setempat melalui program pertanian berkelanjutan yang menyediakan lahan, bibit unggul, hewan ternak, serta pendampingan intensif selama satu tahun. Program ini dirancang tidak hanya untuk mendukung kebutuhan pangan, tetapi juga membangun fondasi kemandirian ekonomi di lingkungan asrama.
Bagi Bosch Indonesia, kisah Asrama Honai Cista bukan sekadar tentang bantuan, melainkan tentang menemani proses tumbuh. Melalui dukungan yang berkelanjutan, Bosch percaya bahwa kesejahteraan keluarga Indonesia dibangun dari kesempatan belajar yang setara dan bermakna. Nilai inilah yang terus dihidupkan Bosch dalam setiap langkahnya, sejalan dengan filosofi “Invented for life”—menghadirkan solusi yang memberi dampak nyata bagi kehidupan.*









