Perlahan namun pasti, Asrama Honai Cista membawa perubahan besar bagi anak-anak dari kampung-kampung terpencil di Distrik Yaro, Nabire. Asrama ini menjadi titik terang bagi mereka yang sebelumnya harus berjalan berjam-jam menembus hutan dan sungai hanya untuk sampai ke sekolah. Kini, mereka dapat belajar dengan lebih tenang, beristirahat dengan layak, dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung proses pendidikan.
Lebih dari sekadar tempat tinggal, Honai Cista menjadi ruang pembentuk karakter. Disiplin, tanggung jawab, dan semangat belajar tumbuh berdampingan dalam keseharian anak-anak asrama. Sejumlah siswa bahkan berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi—sesuatu yang dulu terasa nyaris mustahil.
Di balik perjalanan ini, berdiri sosok Agustina Taihuttu, Kepala Sekolah SD Negeri Muko Tanah Merah. Ia ditempatkan di sekolah tersebut pada 2016, ketika kondisinya nyaris tak berfungsi. “Sekolah itu sudah ditinggalkan kepala sekolah beberapa tahun, muridnya sudah tidak ada,” kenangnya. Lingkungan sekitar masih berupa hutan lebat, tanpa listrik, tanpa fasilitas pendukung pendidikan.
Meski sempat ragu melihat kondisi tersebut, panggilan sebagai pendidik membuat Agustina bertahan. “Karena saya merasa terpanggil sebagai seorang guru, akhirnya dengan hati yang ikhlas saya datang di tempat itu,” ujarnya. Ia memulai langkah pertamanya dengan menemui kepala suku, tokoh adat, pendeta, dan masyarakat, memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan tekadnya membangun kembali sekolah.









