TUAL, MENITINI.COM – Pemerintah Kota Tual mulai membidik potensi besar di balik hamparan laut Kepulauan Kei.
Tak hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan, Pemkot Tual kini mendorong lahirnya industri garam yang diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Maluku.
Langkah itu ditandai dengan penyerahan langsung proposal pengembangan industri garam oleh Wali Kota Tual, Akhmad Yani Renuat, kepada Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Sakti Wahyu Trenggono, dalam agenda peluncuran kerja sama perikanan Indonesia–Republik Rakyat Tiongkok (RI–RRT) di Kota Tual, Kamis (24/9/2026).
Momen tersebut berlangsung di hadapan sejumlah pejabat penting, di antaranya Wakil Wali Kota Tual Amir Rumra, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok, Gubernur Maluku, Bupati Maluku Tenggara, Pangdam Maluku, jajaran Kodim 1503, Kapolres Maluku Tenggara serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kota Tual.
Tak Mau Hanya Jadi Penonton Potensi Laut
Akhmad Yani menegaskan, pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Kepulauan Kei tidak boleh berhenti pada aktivitas penangkapan ikan semata.
Menurutnya, kekayaan laut dan pesisir harus diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Harapan masyarakat tidak hanya pada penangkapan ikan, melainkan pemanfaatan potensi maritim secara menyeluruh, termasuk pemenuhan kebutuhan garam bagi seluruh masyarakat Kepulauan Kei dan Maluku,” ujar Akhmad Yani.
Di tengah agenda tersebut, Wali Kota Tual kemudian mengambil kesempatan untuk menyerahkan proposal pengembangan industri garam secara langsung kepada Menteri KKP.
“Pak Menteri, saya mohon izin, saya menyerahkan proposal pengembangan industri garam ini kepada Pak Menteri,” kata Akhmad Yani.
Jawaban Menteri KKP Bikin Suasana Berubah
Respons Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono langsung menjadi perhatian.
Meski mengaku belum sempat membaca secara menyeluruh isi proposal yang baru diterimanya, Trenggono memberikan pernyataan dukungan terhadap usulan tersebut.
“Proposal sudah saya terima. Belum sempat baca, tapi sudah pasti saya bantu, sudah pasti setuju. Tidak usah khawatir,” tegas Trenggono.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi Pemkot Tual yang tengah mendorong diversifikasi ekonomi berbasis potensi kelautan.
Bagi Pemerintah Kota Tual, industri garam bukan sekadar proyek pengembangan komoditas. Program tersebut diharapkan dapat menjawab kebutuhan garam masyarakat sekaligus membuka ruang baru bagi aktivitas ekonomi lokal.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, industri garam juga berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan, menggerakkan sektor usaha masyarakat serta meningkatkan nilai tambah sumber daya pesisir.
Pemkot Tual kini memiliki pekerjaan lanjutan untuk menerjemahkan dukungan tersebut ke dalam tahapan teknis, mulai dari kajian potensi, kesiapan lokasi, teknologi produksi, kebutuhan investasi hingga skema pengelolaan dan pemasaran.
Kepastian dukungan dari pemerintah pusat pun menjadi momentum bagi Kota Tual untuk membuktikan bahwa potensi maritim Kepulauan Kei tidak hanya bisa menghasilkan ikan, tetapi juga dapat melahirkan industri yang memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat. (M-009)
- Editor: Daton

