DPR Dorong Industri Kendaraan Listrik Putus Ketergantungan Impor Komponen

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Tim Panja RUU Kawasan Industri ketika melaksanakan Kunjungan Kerja ke PT. ALVA , di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (23/09/2026).
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Tim Panja RUU Kawasan Industri ketika melaksanakan Kunjungan Kerja ke PT. ALVA , di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (23/09/2026). (Foto: Parlementaria/Dwiki/sai)

BEKASI, MENITINI.COM – Ketua Tim Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak berhenti sebagai tren pasar. Menurutnya, elektrifikasi kendaraan harus diarahkan untuk memperkuat industri nasional sekaligus menekan biaya transportasi masyarakat.

Evita menyoroti masih tingginya ketergantungan industri otomotif nasional terhadap impor bahan baku dan komponen utama, termasuk baterai dan plastik.

Ia menilai percepatan operasional Indonesia Battery Corporation (IBC) menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik hingga 60-80 persen.

“Sekarang ini kan sebenarnya masalah yang mereka hadapi ini adalah bahan baku ya, baterai, plastiknya. Itu kan masih impor kita. Kita dorong lah segera yang namanya IBC ini, yang produksi baterai ini bisa segera terealisasi dan diproduksi, sehingga pencapaian TKDN 60 ke 80 itu bisa tercapai,” tegas Evita.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Kunjungan Kerja Panja RUU Kawasan Industri Komisi VII DPR RI ke fasilitas PT Ilectra Motor Group (ALVA) di Delta Silicon Industrial Park, Kawasan Industri Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi, Rabu (23/9/2026).

BACA JUGA:  Pansus RUU Desain Industri Soroti Perlindungan UMKM dan Penggunaan AI

Selain memperkuat industri hulu, Evita menekankan pentingnya memastikan kendaraan listrik memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama melalui penghematan biaya operasional.

Menurutnya, efisiensi penggunaan kendaraan listrik perlu didukung jaringan layanan purnajual (after-sales service) yang mampu menjangkau berbagai wilayah Indonesia.

“Kalau kita ambil untuk manfaatnya untuk rakyat aja deh, rakyat kecil ya, itu kan dulu mahal banget isi bensin. Dengan motor listrik ini kan terjadi efisiensi. Saya baca presentasi dari PT ALVA, mereka itu sudah punya after care-nya di 130 titik,” ujarnya.

Evita mengatakan jaringan layanan tersebut saat ini telah mencakup sejumlah wilayah, termasuk Pulau Jawa, Makassar, dan Bali. Ia berharap cakupan layanan dapat diperluas hingga skala nasional.

Industri Nasional Masih Butuh Investasi

CEO ALVA Purbaja Pantja mengatakan pengembangan industri kendaraan listrik nasional masih membutuhkan penguatan investasi, teknologi, dan skala ekonomi, terutama untuk komponen kelistrikan dan baterai.

BACA JUGA:  8 Fraksi DPR Dorong Keadilan Ekonomi Media dalam Revisi UU Penyiaran

Menurutnya, ALVA terus berupaya menekan inefisiensi produksi melalui penerapan teknologi dan standar manajemen mutu.

“Untuk komponen yang berhubungan dengan electrical atau baterai, industri nasional masih memerlukan penguatan dari sisi teknologi, skala ekonomi, dan investasi,” kata Purbaja.

Ia menjelaskan fasilitas produksi ALVA dikembangkan dengan pendekatan smart manufacturing berbasis industri 4.0. Fasilitas tersebut juga telah menerapkan standar ISO 9001 untuk manajemen mutu.

“Yang kami ingin pastikan di sini adalah prosesnya sudah berjalan dengan baik,” pungkasnya. (M-011)

  • Editor: Daton
Scroll to Top