“Lokasabha ini merupakan ruang strategis untuk menjaga keseimbangan pembangunan antara aspek sekala dan niskala, dengan menjunjung tinggi prinsip kebersamaan, gotong royong, serta kearifan lokal Bali,” ujarnya.
Lebih lanjut, Adi Arnawa berharap pelaksanaan Lokasabha XII di Kabupaten Badung dapat menjadi momentum konsolidasi internal MGPSSR dalam merumuskan program kerja yang adaptif terhadap dinamika sosial, berdaya guna bagi masyarakat, serta berkelanjutan. Program tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan sosial budaya dan pembangunan sumber daya manusia Bali.
“Saya berharap Lokasabha XII dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan bersama, menjadi ruang dialog konstruktif dalam merumuskan arah kebijakan organisasi adat ke depan, sekaligus mempertegas peran MGPSSR sebagai penjaga nilai tradisi, etika sosial, dan identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi dan globalisasi,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menekankan pentingnya persatuan krama Bali dalam menjaga keharmonisan sosial, adat, budaya, dan kehidupan beragama. Ia mengingatkan Bali sebagai daerah terbuka dan destinasi dunia tidak lepas dari berbagai kepentingan yang berpotensi bertentangan dengan nilai-nilai lokal.
Menurut Koster, penguatan organisasi adat merupakan bagian dari strategi menjaga ketahanan sosial Bali. Ia menilai MGPSSR memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat agar tetap berpegang pada nilai adat dan budaya Bali.









