Banyumas Jadi Contoh Nasional Pengelolaan Sampah Berbasis Hulu

Proses pengelolaan sampah di Banyumas. (Foto: Dok. Humas Pemkab Banyumas)

Selain aspek pengolahan, Diaz juga menekankan pentingnya kepastian pasar dalam pengembangan RDF. Menurutnya, keberadaan pihak pembeli (off-taker) menjadi kunci agar pengolahan sampah tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru, seperti penumpukan dan bau tidak sedap.

Dalam kesempatan itu, Banyumas juga mendapat apresiasi atas keberhasilannya memperoleh dana hibah sebesar 150.000 dolar Amerika Serikat dari United Nations Capital Development Fund (UNCDF) untuk mendukung pengelolaan lingkungan. Banyumas menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang menerima hibah tersebut.

Meski alokasi anggaran lingkungan hidup dalam APBD Banyumas masih di bawah 3 persen, capaian tersebut dinilai menunjukkan pentingnya inovasi serta kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, swasta, komunitas, hingga investor.

BACA JUGA:  Longsor Gunungan Sampah di Bantar Gebang Tewaskan 4 Orang, Menteri LH: Bukti Kegagalan Sistemik Pengelolaan Sampah Jakarta

Diaz berharap keberhasilan Banyumas dapat direplikasi daerah lain, dengan catatan pengelolaan dilakukan secara disiplin dan sesuai standar lingkungan. Ia juga mengingatkan sejumlah kegagalan pengelolaan RDF di daerah lain yang menimbulkan pencemaran akibat lemahnya sistem pengangkutan dan pengelolaan.

“Masalah sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi menyangkut kesehatan dan keberlanjutan hidup manusia. Karena itu, pengelolaan yang tepat dan konsisten sangat menentukan masa depan lingkungan,” katanya.

BACA JUGA:  Giri Prasta Dorong Pemilahan Sampah dari Sumber, PSEL Bali Ditargetkan Beroperasi 2027

Dengan capaian tersebut, Banyumas diyakini berpeluang kembali meraih penghargaan Adipura sekaligus menjadi percontohan pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia.*

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top