Banjir Kian Parah, Anak Muda Indonesia Tolak “Solusi Palsu” Krisis Iklim

Ilustrasi kerusakan akibat banjir
Ilustrasi kerusakan akibat banjir. (pexels)

Istilah false solutions merujuk pada berbagai solusi instan yang di atas kertas tampak menjanjikan. Ada teknologi canggih, skema pasar karbon, hingga janji penurunan emisi. Namun dalam praktiknya, solusi ini justru membuat polusi tetap berjalan dan industri fosil terus beroperasi.

Perusahaan kerap mengklaim bisnisnya kini lebih ramah lingkungan lewat teknologi pengurang emisi. Grafik dan jargon teknis dipamerkan ke publik. Namun faktanya, banjir tetap datang, udara tetap tercemar, dan desa-desa terus tenggelam. Yang berubah hanya narasinya, bukan dampaknya di lapangan.

BACA JUGA:  Ternyata TPA Suwung Tidak Harus Ditutup, Begini Rekomendasi Pembenahan dari Kementerian PU

Fathan mencontohkan, skema carbon market, debt swap, Carbon Capture and Storage (CCS), hingga Tropical Forest Forever Facility (TFFF) tidak menjawab krisis nyata di pesisir utara Jawa.
“Solusi-solusi itu tidak menyelesaikan banjir rob, intrusi air laut, dan amblasnya tanah di Demak, Jepara, Pekalongan, Semarang, hingga Cirebon yang menyebabkan ratusan hektare lahan pertanian hilang dan ribuan keluarga direlokasi secara paksa,” jelasnya.

Iklan

BERITA TERKINI

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top