Rupiah Tertekan Sentimen Global, Surplus Perdagangan Belum Mampu Redam Tekanan

Ilustrasi mata uang rupiah
Ilustrasi mata uang rupiah. (Foto: Pixabay)

JAKARTA,MENITINI.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada awal perdagangan Rabu di Jakarta. Mata uang Garuda dibuka melemah 58 poin atau 0,34 persen ke level Rp16.930 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.872 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah kali ini lebih dipicu sentimen eksternal ketimbang faktor domestik. Mengutip Kantor Berita Antara, Rabu (4/3), Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menilai eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu lonjakan kekhawatiran pasar global.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengambil langkah “risk-off”, dengan mengalihkan dana ke aset-aset aman seperti dolar AS. Arus modal yang keluar dari negara berkembang pun tak terhindarkan, termasuk dari Indonesia.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Perintahkan Pengawasan Ketat Stok Pangan Jelang Ramadan dan Idulfitri

Selain faktor geopolitik, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve, juga turut membebani pergerakan rupiah. Data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid serta pernyataan sejumlah pejabat bank sentral yang berhati-hati terhadap inflasi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat semakin menipis.

Pasar kini memperkirakan suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi dalam periode yang lebih lama, memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

Tekanan tambahan datang dari kenaikan harga minyak dunia akibat potensi gangguan pasokan. Lonjakan harga energi dinilai meningkatkan risiko inflasi dan memperlebar beban impor bagi negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.

Di tengah dominasi sentimen global tersebut, faktor domestik sebenarnya menunjukkan sinyal positif. Data dari Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 masih surplus sekitar 95 miliar dolar AS. Surplus ini mencerminkan aliran devisa yang tetap terjaga dan ketahanan sektor eksternal yang relatif solid.

BACA JUGA:  Seskab Teddy: Produk AS Tetap Wajib Sertifikasi Halal Sesuai Aturan Indonesia

Namun dalam jangka pendek, sentimen positif itu belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal dan penguatan dolar AS.

Dengan kombinasi faktor global yang masih dominan dan fundamental domestik yang relatif stabil, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan cenderung berhati-hati sembari menanti perkembangan terbaru situasi geopolitik dan arah kebijakan moneter AS. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top