Dari sisi kepariwisataan, Ni Luh berharap festival ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, ke kawasan Candi Prambanan.
“Pariwisata berbasis spiritualitas tidak hanya menawarkan keindahan fisik destinasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman batin, keseimbangan diri, serta hubungan harmonis dengan alam dan budaya,” ujarnya.
Ia menilai perayaan Shiwaratri di Candi Prambanan mencerminkan kekuatan pariwisata Indonesia yang tidak semata bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga pada warisan budaya yang hidup, dirawat, dan dihormati.
“Candi Prambanan adalah living heritage yang kesuciannya harus dijaga bersama sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan bangsa,” ungkap Ni Luh.
Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Wisnu Bawa Tenaya menekankan bahwa ajaran Shiwa mengandung nilai universal tentang keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa. Menurutnya, Prambanan Shiva Festival juga menjadi wujud moderasi beragama yang mengintegrasikan nilai keagamaan, budaya, dan edukasi.
“Festival ini menghadirkan ruang dialog yang damai dan berperan penting dalam membangun harmoni sosial,” katanya.
Ribuan umat Hindu tampak mengikuti rangkaian persembahyangan dengan khidmat di kawasan Candi Prambanan. Perpaduan ritual keagamaan, seni budaya, dan tata cahaya menghadirkan suasana sakral sekaligus pengalaman spiritual yang mendalam bagi peserta dan pengunjung.









