Jumat, 21 Juni, 2024

Kabin Singapore Airlines pasca pendaratan darurat - Reuters

DENPASAR, MENITINI.COM – Turbulensi pesawat merupakan fenomena umum yang sering kali menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang. Meskipun demikian, banyak orang yang memiliki kekhawatiran bahwa turbulensi bisa berakibat fatal. Setelah baru-baru saja meraih prestasi, nampaknya Singapore Airlines dilanda kabar yang kurang mengenakkan. Penerbangan Singapore Airlines dari London menuju Singapura terpaksa mengalami pendaratan darurat di Thailand akibat adanya turbulensi hebat. Demi keselamatan penumpang, pilot terpaksa mendaratkan pesawat pada bandara terdekat sebelum mencapai tujuannya. Meski dengan pencegahan ini ternyata turbulensi tetap memakan korban. Artikel kali ini akan membahas dampak turbulensi pesawat terhadap keselamatan penerbangan dan risiko kematian yang mungkin ditimbulkan.

Kabin Singapore Airlines pasca pendaratan darurat – Reuters

Apa itu Turbulensi?

Turbulensi adalah pergerakan udara yang tidak teratur dan sering kali mendadak, yang dapat menyebabkan pesawat berguncang atau bergetar. Perlu kita ingat bahwa kecepatan pesawat cukup tinggi jika kita bandingkan dengan moda transportasi darat misalnya. Penyebab turbulensi secara umum akibat dari beberapa faktor, seperti:

  • Jet stream: Aliran udara cepat yang bergerak dari barat ke timur di ketinggian tinggi.
  • Cuaca buruk: Awan cumulonimbus, badai petir, dan angin kencang.
  • Orografi: Pergerakan udara melewati pegunungan atau medan lainnya.
BACA JUGA:  Korban Singapore Airlines Alami Cedera Tulang Belakang, Apa itu?

Dampak Turbulensi pada Pesawat

Dari 3 faktor penyebab utama tersebut, tentunya akan berdampak pada pergerakan dan keseimbangan pesawat. Dampak yang timbul antara lain:

  1. Guncangan dan getaran: Ini adalah efek yang paling umum namun ada banyak derajat guncangan dan getaran yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang.
  2. Kerusakan struktural: Dalam kasus yang sangat jarang, turbulensi ekstrem bisa menyebabkan kerusakan pada struktur pesawat, seperti sistem elektronik, kerangka sayap atau ekor.
  3. Luka pada penumpang: Penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman atau berada pada toilet pesawat berisiko terlempar dari kursi yang bisa menyebabkan cedera serius.

Risiko Kematian Akibat Turbulensi

Meskipun turbulensi sering kali menakutkan, risiko kematian akibat turbulensi sangat rendah. Statistik menunjukkan bahwa insiden fatal akibat turbulensi sangat jarang. Kematian yang langsung disebabkan oleh turbulensi hampir tidak pernah terjadi. Mayoritas kecelakaan pesawat yang melibatkan kematian disebabkan oleh faktor lain, seperti riwayat penyakit pada penumpang, kegagalan mesin, kesalahan pilot, atau kondisi cuaca ekstrem yang lebih serius daripada turbulensi biasa.

Berkaca pada kasus maskapai Singapore Airlines, penumpang yang meninggal dunia diduga mengalami serangan jantung saat turbulensi terjadi. Riwayat penyakit lain yang dapat berisiko terjadi kematian saat turbulensi adalah penyakit paru yang melibatkan gangguan tekanan udara pada rongga paru dan serangan panik. Maka penting sekali, walaupun dalam kondisi stabil, orang-orang dengan kondisi tersebut untuk terus membawa obat-obatan emergensi. Kita tidak pernah tahu kapan mungkin dibutuhkan. Lebih baik mencegah risiko bukan?

BACA JUGA:  Korban Singapore Airlines Alami Cedera Tulang Belakang, Apa itu?

Kondisi cedera lebih umum daripada kematian. Dalam sebagian besar kasus, penumpang yang mengalami luka akibat turbulensi biasanya karena tidak mengenakan sabuk pengaman. Seperti yang terjadi pada kasus Singapore Airlines, beberapa penumpang dan petugas cedera akibat benturan dan tidak menggunakan sabuk pengaman. Sementara derajat cedera bisa berkisar dari luka ringan hingga serius, namun jarang sekali berujung pada kematian.

Langkah Pencegahan

Untuk meminimalisir dampak turbulensi, industri penerbangan sudah mengambil berbagai langkah pencegahan. Meskipun belum 100% sempurna, namun sudah terbukti mengurangi risiko fatal saat turbulensi. Langkah tersebut meliputi:

  1. Teknologi deteksi turbulensi: Sistem radar modern dan sensor turbulensi membantu pilot menghindari area turbulensi atau mempersiapkan penumpang lebih awal.
  2. Prosedur keselamatan: Ada berbagai instruksi kemanan yang harus penumpang lakukan selama dalam kabin pesawat. Salah satunya untuk tetap menggunakan sabuk pengaman sesuai tanda atau instruksi awak kabin.
  3. Pelatihan awak kabin: Secara berkala, awak kabin menjalani pelatihan untuk menangani situasi darurat akibat turbulensi dan memastikan keselamatan penumpang. Bahkan ada sertifikasi yang harus terus mereka perbarui sebagai syarat laik terbang.
BACA JUGA:  Korban Singapore Airlines Alami Cedera Tulang Belakang, Apa itu?

Selain dari segi industri dan petugas penerbangan sendiri, penting melakukan pencegahan dari sisi penumpang. Sebagai penumpang tentunya harus mematuhi anjuran awak kabin dan memastikan membaca petunjuk darurat yang tersedia. Sehingga jika terjadi kondisi darurat, dapat saling membantu antara penumpang lainnya dan mengurangi risiko cedera lebih lanjut saat turbulensi.

Kesimpulan

Turbulensi pesawat adalah fenomena yang umum terjadi. Meskipun seseorang sudah bekerja lama dalam dunia penerbangan, tidak akan pernah terbiasa dengan turbulensi. Tiap orang pasti akan tetap merasakan ketidaknyamanan. Jika tanpa risiko atau riwayat penyakit sebelumnya, risiko kematian akibat turbulensi sangat rendah. Dengan teknologi modern dan prosedur keselamatan yang ketat, industri penerbangan terus bekerja untuk memastikan bahwa penumpang tetap aman meskipun menghadapi turbulensi. Jadi, jangan khawatir dan jangan lupa berdoa memohon keselamatan dan perlindungan saat melakukan perjalanan ya sobat! (M-010)