Ia menjelaskan, penyuluhan dan sosialisasi terus dilakukan secara berkelanjutan di tingkat desa. Setiap desa di wilayah Kintamani telah memiliki petugas penyuluh pertanian yang aktif memberikan pendampingan langsung kepada petani terkait tata cara pengolahan pupuk organik yang benar.
Sejumlah kelompok tani telah menjadi sasaran edukasi, di antaranya kelompok tani di Pangsut Sari, Dusun Cingang Desa Kayubihi, Balai Banjar Apuan Kaja, serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kintamani Barat dan BPP Kintamani Timur. Dalam kegiatan tersebut, petani diberikan pemahaman mengenai pentingnya proses fermentasi sebelum pupuk diaplikasikan ke lahan.
Menurut Sarma, penggunaan pupuk kotoran ternak yang tidak diolah dengan baik menjadi salah satu faktor utama pemicu munculnya lalat dalam jumlah besar. Karena itu, peningkatan kesadaran petani dinilai menjadi kunci dalam penanganan jangka menengah dan panjang.
“Ke depan, masih banyak kelompok tani lain yang akan kami sasar. Harapannya, dengan edukasi yang konsisten, pengelolaan pupuk organik bisa semakin baik sehingga permasalahan lalat di Kintamani dapat ditekan secara bertahap,” ujarnya.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga kenyamanan lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pariwisata di Kintamani, yang selama ini menjadi salah satu andalan Kabupaten Bangli.*
- Editor: Daton









