Komposisi sampah pantai didominasi material organik berupa kayu sekitar 70 persen, sementara 30 persen lainnya merupakan sampah plastik. Sampah plastik bernilai ekonomi dipilah untuk didaur ulang, sedangkan kayu diolah menggunakan mesin wood chipper agar dapat dimanfaatkan kembali.
DLHK Badung juga menggandeng berbagai pihak, mulai dari NGO lingkungan, pelaku usaha pariwisata, hingga TNI dan Polri, dalam penanganan sampah pesisir. Kolaborasi ini dinilai penting untuk memperkuat upaya penanganan sampah laut secara berkelanjutan.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kebersihan dan kelestarian pesisir. Selain pembersihan pantai, Pemkab Badung juga melakukan normalisasi sungai guna menekan aliran sampah ke laut.
“Penanganan sampah pesisir tidak cukup dengan aksi bersih-bersih, tetapi juga perlu edukasi dan keterlibatan masyarakat agar lingkungan pesisir tetap lestari,” ujarnya.
Upaya penanganan sampah juga diperkuat melalui aksi bersih pantai yang melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat, menyusul perhatian pemerintah pusat terhadap kondisi darurat sampah di Bali. Pantai Kuta menjadi salah satu fokus utama karena perannya sebagai ikon pariwisata nasional dan internasional.*
- Editor: Daton









