KLH Perkuat Kolaborasi Pemulihan Sungai, 1.801 Badan Air di Indonesia Masih Tercemar

KLH Perkuat Kolaborasi Pemulihan Sungai, 1.801 Badan Air di Indonesia Masih Tercemar
KLH Perkuat Kolaborasi Pemulihan Sungai, 1.801 Badan Air di Indonesia Masih Tercemar. (Foto: KLH/BPLH)

MOJOKERTO, MENITINI.COM – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat komitmen perlindungan dan pemulihan sungai melalui kolaborasi lintas sektor dalam Konferensi Sungai Se-Indonesia 2026 yang digelar di Wana Wisata Sumber Gempong, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Forum yang berlangsung pada 25–27 Juli 2026 itu digelar untuk menyambut Hari Sungai Nasional sekaligus menjadi ajang konsolidasi komunitas pegiat sungai dari berbagai daerah dalam memperkuat upaya pelestarian sungai sebagai sumber kehidupan.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat mengatakan, keberhasilan menjaga sungai tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga media.

“Semua peradaban, termasuk di Indonesia, jejaknya ada di sungai. Karena itu kolaborasi menjadi kunci dalam menjaga dan memulihkan sungai,” ujar Jumhur.

Ia juga mengapresiasi komunitas sungai yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas sungai di berbagai daerah. Menurutnya, kepercayaan komunitas sungai yang menempatkan Menteri Lingkungan Hidup sebagai dewan penasihat menjadi dorongan untuk memperkuat sinergi dalam pelestarian lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, KLH/BPLH memaparkan kondisi kualitas air nasional yang masih menjadi tantangan. Berdasarkan pemantauan tahun 2025 di 6.245 titik yang mencakup 1.926 sungai serta 109 danau maupun situ, hanya 234 badan air yang memenuhi baku mutu, sedangkan 1.801 badan air masih mengalami pencemaran.

BACA JUGA:  SMAN 1 Gresik Jadi Percontohan Sekolah Peduli Lingkungan

Pencemaran tersebut didominasi tingginya parameter Biological Oxygen Demand (BOD), Total Coliform, Fecal Coliform, dan kandungan klorin yang berasal dari aktivitas domestik, peternakan, hingga industri.

Konferensi bertema “Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan” ini diikuti sekitar 500 peserta dari 15 provinsi, 53 kabupaten/kota, dan perwakilan 33 daerah aliran sungai (DAS). Selama tiga hari, peserta berdiskusi, berbagi praktik baik, serta menyusun langkah kolaboratif untuk mempercepat pemulihan kualitas sungai di Indonesia.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong berbagai program pelestarian sungai, termasuk susur sungai dan patroli air yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Kami juga membentuk Patroli Air sebagai wujud kerja sama pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan para pegiat lingkungan untuk menyelamatkan serta melestarikan sungai,” katanya.

BACA JUGA:  Status Keanekaragaman Hayati Bali-Nusa Tenggara Diluncurkan, Jadi Acuan Kebijakan Perlindungan Biodiversitas

Selain forum diskusi, konferensi menghasilkan sejumlah komitmen melalui pembacaan Deklarasi Komunitas Sungai, penanaman pohon, dialog interaktif, serta penandatanganan nota kesepahaman antara KLH/BPLH dengan Pengurus Besar Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI).

Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperkuat perlindungan sungai sekaligus mendorong pemanfaatan sungai secara berkelanjutan, termasuk untuk pengembangan wisata air dan olahraga arung jeram tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya.

Sementara itu, Rahmalinda dari Komunitas Konservasi Air Aceh berharap hasil konferensi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi dasar lahirnya aksi nyata yang berkelanjutan dalam menjaga sungai di seluruh Indonesia.

Melalui Konferensi Sungai Se-Indonesia 2026, KLH/BPLH menegaskan bahwa keberlanjutan sungai hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi multipihak agar fungsi ekologis sungai tetap terjaga dan mampu menopang kehidupan masyarakat di masa depan. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top