Menurutnya, Komisi III berencana menggelar rapat kerja dengan Dinas PUPR Bangli dalam waktu dekat untuk membahas penanganan jalan tersebut secara menyeluruh. Legislator menilai perbaikan tidak bisa ditunda karena warga kini terpaksa mengambil jalur alternatif yang lebih jauh untuk mencapai pusat Kota Bangli.
“Kalau tidak segera ditangani, masyarakat harus memutar cukup jauh dari Selat menuju kota. Ini jelas menambah waktu tempuh dan biaya,” ujarnya.
Diketahui, kerusakan jalan Juuk Bali–Penatahan terjadi secara bertahap sejak sekitar dua bulan terakhir dan mencapai puncaknya setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Struktur tanah di bawah badan jalan yang merupakan tanah urug dinilai menjadi salah satu faktor utama, mengingat jembatan tersebut dibangun pada era 1980-an. Kondisi tanah yang labil membuat bagian bawah jalan mudah tergerus aliran air, hingga akhirnya jebol dan memutus akses sepenuhnya.*
- Editor: Daton









