Dari Mimbar Gereja Maranatha, Kapolda Maluku Ungkap Kunci Menjaga Keaman

Kapolda Maluku Irjen Pol. Suwondo Nainggolan.
Kapolda Maluku Irjen Pol. Suwondo Nainggolan.
AMBON, MENITINI.COM – Menjaga keamanan di Maluku bukan sekadar soal menangkap pelaku kejahatan atau menegakkan hukum.
Di tengah keberagaman masyarakat, dialog, pendekatan humanis, dan peran tokoh agama dinilai menjadi benteng penting untuk mencegah konflik serta merawat kerukunan.
Pesan tegas itu disampaikan Kapolda Maluku Irjen Pol. Suwondo Nainggolan saat mengikuti kegiatan Minggu Kasih bersama jemaat Gereja Maranatha, Kota Ambon, Minggu (18/10/2026).
Di hadapan jemaat, Suwondo menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada kepolisian.
Dukungan masyarakat, keterlibatan tokoh agama, serta komunikasi yang terbuka menjadi faktor penting untuk menjaga Maluku tetap aman, damai, dan harmonis.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.55 hingga 10.35 WIT itu menjadi momentum bagi Kapolda untuk membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus menyerap aspirasi secara langsung.
Suwondo hadir bersama istri, didampingi Dirpolairud Polda Maluku, Kabidkum Polda Maluku, Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, serta sejumlah personel Polda Maluku.
Kedatangan rombongan disambut Pdt. Yanes Titaley, M.Si., bersama majelis jemaat, perangkat gereja, dan jemaat Gereja Maranatha.
Kapolda Ingin Lebih Dekat dengan Masyarakat
Suwondo mengapresiasi sambutan hangat keluarga besar Gereja Maranatha.
Menurutnya, Minggu Kasih bukan sekadar kegiatan seremonial atau ajang silaturahmi, melainkan kesempatan bagi kepolisian untuk mendengar suara masyarakat, memahami persoalan yang dihadapi, dan mencari solusi secara bersama-sama.
“Saya hadir bukan semata-mata untuk menjalankan tugas sebagai Kepala Kepolisian Daerah, tetapi juga untuk menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Maluku.
Saya ingin mengenal masyarakatnya, memahami karakteristik wilayahnya, mendengarkan aspirasi masyarakat, serta bersama-sama mencari jalan terbaik dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada,” ungkapnya.
Ia menilai, pendekatan kepolisian harus mempertimbangkan karakteristik sosial, budaya, adat istiadat, dan kehidupan keagamaan masyarakat Maluku.
Pemahaman tersebut penting agar setiap persoalan dapat ditangani secara tepat, tanpa mengabaikan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, ruang komunikasi dengan tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat harus terus dibuka.
Melalui dialog yang sehat, berbagai persoalan sosial diharapkan dapat diselesaikan sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih besar.
Gereja Dinilai Punya Peran Strategis
Di tengah kemajemukan Maluku, Suwondo juga menyoroti peran gereja dan pemuka agama dalam menjaga stabilitas sosial.
Menurutnya, lembaga keagamaan tidak hanya berperan dalam pembinaan iman, tetapi juga memiliki kekuatan moral untuk menanamkan toleransi, memperkuat kepedulian sosial, dan membangun persaudaraan.
Nilai kasih, saling menghormati, dan hidup berdampingan dalam perbedaan, katanya, harus terus dipelihara agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan.
“Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab Polri. Keamanan merupakan tanggung jawab bersama.
Kepolisian membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja dan para pemuka agama, untuk membangun suasana yang aman, damai, rukun, dan penuh kasih,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kedamaian tidak cukup dibangun melalui penegakan hukum semata.
Keteladanan, kepedulian terhadap sesama, serta kesediaan untuk mendengarkan dan menghargai perbedaan juga menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan yang tenteram.
Dengan suasana yang aman dan kondusif, masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, bekerja, belajar, dan beribadah tanpa dihantui rasa takut.
Minta Doa dan Dukungan Tokoh Agama
Dalam kesempatan itu, Kapolda juga meminta dukungan, nasihat, dan doa dari para pemuka agama serta masyarakat Maluku agar dirinya bersama seluruh jajaran Polda Maluku dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, kebijaksanaan, dan ketulusan.
Ia menegaskan pentingnya kehadiran polisi yang tidak hanya bertindak ketika terjadi pelanggaran hukum, tetapi juga mampu membangun kepercayaan, memberikan perlindungan, serta hadir sebagai mitra masyarakat dalam menghadapi persoalan sosial.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K., mengatakan kegiatan Minggu Kasih merupakan salah satu sarana komunikasi langsung antara Polri dan masyarakat untuk memperkuat kemitraan dalam menjaga kamtibmas.
“Melalui Minggu Kasih, Polda Maluku ingin memastikan bahwa kehadiran Polri tidak hanya dirasakan dalam pelaksanaan tugas penegakan hukum, tetapi juga melalui komunikasi, kepedulian, dan kemitraan dengan masyarakat. Dukungan tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat sangat penting untuk merawat toleransi, memperkuat persaudaraan, serta menjaga Maluku tetap aman dan damai,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Kapolda turut mengapresiasi pujian rohani yang dipersembahkan jemaat Gereja Maranatha, yang dinilainya mencerminkan sukacita, kebersamaan, dan kuatnya persaudaraan dalam kehidupan bergereja.
Melalui Minggu Kasih, Polda Maluku kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan tokoh agama dan seluruh komponen masyarakat.
Di tengah tantangan menjaga stabilitas keamanan di wilayah yang majemuk, pesan yang mengemuka dari Gereja Maranatha itu jelas: perdamaian tidak cukup dijaga dengan hukum, tetapi juga harus dirawat melalui kepercayaan, toleransi, dan persaudaraan.
Sinergi tersebut diharapkan menjadi modal sosial untuk mencegah gangguan kamtibmas, menjaga kerukunan antarumat beragama, dan memperkokoh persaudaraan di Bumi Raja-Raja. (M-009)
  • Editor: Daton
BACA JUGA:  Mencekam! 16 Penumpang Terombang-ambing di Laut Aru, Mesin Perahu Mati Berjam-jam
Scroll to Top